Posted by: pribadiavry | July 30, 2009

HAMA YANG BERPOTENSI MENYERANG TANAMAN Acacia sp.

Oleh:
Avry Pribadi

I. PENDAHULUAN

Permintaan hasil hutan khususnya kayu dan produk turunannya yang semakin meningkat merupakan konsekuensi bertambahnya jumlah penduduk dan pesatnya pembangunan merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Sebagai negara tropis yang sumber devisa keduanya berasal dari hutan, adanya meningkatnya permintaan konsumen tersebut merupakan peluang bagi Indonesia. Pangsa pasar kayu Indonesia di Asia saat ini meliputi India, Cina, Vietnam, Malaysia, Taiwan, Philipina, Jepang Singapura, Korea Selatan, dan Thailand. Sedangkan di Eropa dan Amerika adalah Italia, Irlandia, dan AS.
Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1980 tentang Hak Penguasaan Hutan Tanaman Industri. Hutan Tanaman Industri ini bertujuan untuk meningkatkan produksi industri kehutanan dan berkaitan juga dengan usahan pemerintah untuk merehabilitasi lahan yang rusak, sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga.
Hutan Tanaman Industri (HTI) yang dibangun umumnya digunakan untuk pemasok kebutuhan industri perkayuan, seperti ply wood, kayu gergajian, dan pulp. Produktivitas hutan tanaman dipengaruhi oleh iklim, tanah, fisiografi dan faktor pengelolaan. Kondisi tanah yang berpengaruh langsung terhadap vegetasi adalah komposisi fisik dan kimia tanah, kandungan air, suhu dan aerasi tanah.
Tanaman yang diusahakan pada lahan HTI masih terbatas pada tanaman yang pertumbuhannya cepat (fast growing). Sedikitnya ada 18 jenis tanaman HTI yang dianjurkan oleh Departemen Kehutanan, yaitu Acacia sp., Eucalyptus sp., Paraserienthes falcataria, Ceiba petandra, Cassia siamea, Pinus sp., Peronema canescens, Pterocarpus indicus, Hevea sp., Aleurites molucana, Anthocephalus cadamba, Shorea sp., Dyera costulata, dan kayu energi (Kherudin, 1994).
Diantara 18 jenis tanaman HTI tersebut, Acacia sp.termasuk jenis tanaman HTI yang pertumbuhannya cepat, tidak memerlukan persyaratan tumbuh yang tinggi dan tidak begitu terpengaruh oleh jenis tanahnya (Litbanghut, 2004). Kayunya bernilai ekonomi karena merupakan bahan yang baik untuk industri pulp. Berdasarkan data dari Insect and Pest in Indonesian Forest, luas Hutan Tanaman Industri yang ditanami oleh Acacia sp. mencapai hampir 80 % atau hampir 470 ribu hektar (Nair, 2000).
Faktor yang lain yang mendorong pengembangan jenis ini adalah sifat pertumbuhan yang cepat. Pada lahan yang baik, umur 9 tahun telah mencapai tinggi 23 meter dengan rata-rata kenaikan diameter 2 – 3 meter dengan hasil produksi 415 m3/ha atau rata-rata 46 m3/ha/tahun. Pada areal yang ditumbuhi alang-alang umur 13 tahun mencapai tinggi 25 meter dengan diameter rata-rata 27 cm serta hasil produksi rata-rata 20 m3/ha/tahun. Kayu Acacia sp. termasuk dalam kelas kuat III-IV, berat jenis 0,56 – 0,60 dengan nilai kalori rata-rata antara 4800 – 4900 kcal/kg. Pada umumnya Acacia sp. mencapai tinggi lebih dari 15 meter, kecuali pada tempat yang kurang menguntungkan akan tumbuh lebih kecil antara 7 – 10 meter. Pohon Acacia sp. yang tua biasanya berkayu keras, kasar, beralur longitudinal dan warnanya bervariasi mulai dari coklat gelap sampai terang (Litbanghut, 2004).
Acacium sp. tumbuh secara alami di Maluku dengan jenis Melaleuca leucadendron. Selain itu terdapat pula di pantai Australia bagian utara, Papua bagian selatan (Fak-fak di Aguada dan Tomage Rokas, Kepulauan Aru, Maluku dan Seram bagian barat). Persyaratan tempat tumbuh. Acacia sp. tidak memiliki persyaratan tumbuh yang tinggi, dapat tumbuh pada lahan miskin dan tidak subur. Seperti jenis pionir yang cepat tumbuh dan berdaun lebar, jenis Acacia sp. sangat membutuhkan sinar matahari, apabila mendapatkan naungan akan tumbuh kurang sempurna dengan bentuk tinggi dan kurus (Litbanghut, 2004).
Hutan Tanaman Industri (HTI) merupakan hutan yang terdiri atas tegakan monokultur (satu jenis tanaman saja) atau terdiri atas campuran beberapa jenis. Keanekaragaman yang rendah ini tentu saja akan mengganggu keseimbangan ekosistem yang pada akhirnya dapat terjadi blooming hama dan penyakit pada tanaman.
Selain tersusun atas tegakan yang bersifat monokultur, tanaman HTI juga kebanyakan berusia sama. Hal Ini dapat berdampak pada bermunculannya hama dan penyakit. Hal ini disebabkan oleh ketersediaan makanan maupun inang yang sesuai cukup banyak sehingga hama dan penyakit pada tanaman akan dapat berkembang dengan cepat.
Hama adalah semua jenis organisme multisel (biasanya berasal dari golongan arthopoda, nematoda, dan bahkan mammalia) yang bersifat merugikan bagi tanaman inang, misalnya adalah Pteroma plagiophelps yang menyerang Acacia sp. Sedangkan yang dimaksud dengan penyakit adalah semua jenis mikroorganisme (umumnya dari golongan bakteri dan jamur) yang bersifat merugikan tanaman inang. Misalnya adalah Fusarium oxysporum yang dapat menyebabkan penyakit damping off pada tanaman Benuang Laki (Duabanga moluccana).
Timbulnya hama pada tanaman hutan tanaman dapat menyebabkan kerugian yang dapat diperkirakan dalam bentuk uang dan dalam bentuk yang sukar diukur seperti progam penanaman, penyediaan bahan baku industri kayu dan pemandangan yang tidak menarik. Untuk menghindari kerugian yang lebih besar akibat gangguan hama dan penyakit perlu dilakukan pencegahan dan pengendalian sesegera mungkin. Untuk mendapatkan cara pencegahan dan pengendalian hama dan penyakit yang aman, efektif, dan efisien perlu diketahui terlebih dahulu mengenai jenis-jenis hama pada hutan tanaman.

II. ISI

Hama yang banyak menyerang tanaman hutan diantaranya berasal dari golongan arthopoda dan nematode. Sebenarnya mereka memiliki peranan yang besar dalam menguraikan bahan-bahan tanaman dan binatang dalam rantai makanan ekosistem dan sebagai bahan makanan mahluk hidup lain. Peranannya dalam siklus energi di hutan hujan tropis adalah 4 kali peranan vertebrata. Tetapi sehari-hari kita mengenal kelompok ini hanya dari aspek merugikan kehidupan manusia karena banyak di antaranya menjadi hama perusak dan pemakan tanaman hutan dan menjadi pembawa (vektor) bagi berbagai penyakit tanaman.
A. Insecta (serangga)
Tabel 2.1. Tabel daftar hama yang menyerang tanaman Acacia sp.
No Jenis Hama Nama umum Bagian tanaman yang diserang
1. Xystrocera festiva Penggerek batang Batang
2. Eurema sp. Kupu-kupu kuning Daun
3. Aegus acuminatus Penggerek batang Batang
4. Rhopalosiphum maidis Kutu Daun
5. Valanga nigricornis Belalang Daun dan batang (bibit)
6. Coptotermes curvignathus Rayap Akar
7. • Pteroma plagiophelps
• Amatissa sp.
• Cryptothelea sp. Ulat kantong Daun
8. Heliopeltis sp. kutu Pucuk dan daun
9. Xylosandrus compactus Pengebor batang Batang

1. Xystrocera festiva
Hama ini merupakan jenis hama yang termasuk pengebor batang, khususnya pada batang dari jenis leguminosae. Kerusakan pertama akan muncul ketika bagian dari kulit pohon mengalami nekrosis dan menunjukkan adanya lubang yang berbentuk oval sebagai aktivitas pengeboran dari larva hama ini. Gejala selanjutnya adalah cabang dan batang akan menjadi mati. Jalan masuk hama pada batang akan tampak berwarna hitam dan kering. Daerah penyebaran hama ini adalah India (Assam), Myanmar, Vietnam utara, Laos, Indonesia (Sumatra, Jawa, dan Kalimantan) ((Kalshoven, 1981).
Larva hama ini berwarna kuning kecoklatan dan berukuran 5 cm. Larva ini biasanya hidup secara berkelompok dan memakan kulit kayu, lapisan cambium, xylem, dan berdiam di bawah kulit kayu. Mendekati fase pupa, larva akan melubangi sebuah saluran sekitar 20 cm. Bahkan saluran yang di buat dapat sampai ke pembuluh xylem. Hama ini mulai menyerang tanaman Acacia sp. yang berymur 2 atau 3 tahun (Matsumoto and Irianto, 1994).

Gambar 2.1 Xystrocera festiva
(Sumber: http://www.malaeng.com/blog/index.php?paged=15)

X. festiva betina hanya dapat hidup selama 4 hari. Selama masa hidupnya yang singkat itu, hama ini mampu mendepositkan sekitar 200 telur. Telur yang dihasilkan hama ini berwarna hijau terang dan berbentuk oval (2×1 mm). Ukuran tubuh jantan dewasa 40,2 x 15 mm dan yang betina 29,71 x 7,3 mm (Kalshoven, 1981).
Untuk mengendalikan hama boktor, sesuai dengan tuntutan akan kelestarian lingkungan, diperlukan cara pengendalian yang selain efektif juga ramah lingkungan. Salah satunya adalah dengan menggunakan pestisida alami. Surian (Toona sisnensis Roem) merupakan jenis pohon yang memiliki banyak kegunaan, selain kayunya dipergunakan untuk bahan kontruksi, pertukangan, mebelair dan bahan perkapalan, pohon ini juga memiliki potensi lain karena mengandung senyawa yang dapat digunakan sebagai biopestisida (Hidayat dan Kuvaini, 2005)

2. Eurema sp.
Kupu-kupu ini ditemukan di India, Birma, dan Sri Langka. Sebenarnya hama ini merupakan hama penting yang terdapat pada pohon pelindung (shade tree)pada area perkebunan teh. Pada tahap instar awal, larva akan berada di bagian terluar epidermis daun dan akan memakan daun-daun tersebut ketika tumbuh besar. Hal inilah yang sering terjadi pada tanaman muda sehingga sering kali tanaman tampak gundul karena tidak memiliki daun (Kalshoven,1981).

Gambar 2.2 Euremma sp. (fase dewasa)
(Sumber: http://www.pbase.com/uplepidoptera/family_pieridae)

Kupu-kupu ini aktif selama musim dingin dan awal musim semi. Telurnya sering diletakkan pada posisi terbawah dari daun (lateral daun) dan sering kali diletakkan pada ujung tunas yang masih inaktif secara berkelompok. Telurnya berwarna putih dan diselimuti oleh benang-benang seperti jala. Tiap kelompok telur terdiri dari 28 sampai 137 butir. Masa inkubasi telur adalah 12-14 hari. Setelah menetas, fase berikutnya adalah larva yang akan tumbuh sempurna selama 22-26 hari pada bulan Desember dan 11-14 hari pada bulan Maret. Larva ini memiliki panjang 26-30 mm. Pada fase larva inilah terjadi proses perusakan yang tinggi. Hal ini disebabkan karena aktivitas makan yang tinggi untuk persiapan pada fase pupa. Larva kemudian akan berubah menjadi pupa. Pupa ini memiliki warna hijau olive sampai dengan coklat kehitaman. Setelah fase pupa berlalu maka akan muncul kupu-kupu dewasa (Nayar et al., 1976).
Beberapa organisme yang potensial dijadikan biokontrol untuk mengendalikan populasi Euremma sp. adalah;
1. Euplectrus sp. dan Charops obtusus yang menyerang pada fase larva.
2. Brachymeria megaspila yang menyerang pada fase pupa (Nayar, Ananthakrishnan, and David, 1976).

3. Aegus acuminatus
Organisme ini bersifat destruktif. Hal ini telah dapat dilihat pada fase larva yang telah memiliki kepala dan rahang yang keras. Larva ini sering kali tampak menggulung. Larva ini memiliki habitat di dalam tanah, kayu mati, dan sisa tanaman. Kumbang ini dinamakan stag beetles karena kumbang jantan memiliki capit yang kuat dan keras (Kalshoven, 1981).

Gambar 2.3 Aegus acuminatus
(sumber: http://www.flickr.com/photos/fbmagpie/1721946568)

4. Rhopalosiphum maidis
Tanaman yang menjadi inang utama bagi kutu daun ini sebenarnya adalah jagung. Akan tetapi kutu ini memiliki inang alternative mulai dari tanaman padi sampai pada tanaman hutan seperti Acacia sp. Kutu ini menginfeksi semua bagian tanaman, akan tetapi infeksi terbanyak terjadi pada daun. Kutu ini selain merusak daun tanaman inangnya juga membawa sebagai vector dari berbagai macam virus penyakit (Mau and Kessing, 1992).
Populasi kutu ini dapat mengalami perkembangan yang pesat. Hal ini disebabkan oleh sifat perkembangbiakkannya yang parthenogenesis. Perkembangbiakan secara parthenogenesis memungkinkan suatu spesies untuk melestarikan jenisnya tanpa harus melakukan perkawinan (Kalshoven, 1981).
Daur hidup kutu ini dimulai dari telur, kemudian nympha, dan kutu dewasa. Pada fase nympha, kutu ini mengalami 4 tahapan. Tahapan pertama nympha akan tampak berwarna hijau cerah dan sudah terdapat antena. Tahap nympha kedua tampak berwarna hijau pale dan sudah tampak kepala, abdomen, mata berwarna merah, dan antenna yang terlihat lebih gelap dari pada warna tubuh. Pada tahap ketiga, antena akan terbagi menjadi 2 segmen, warna tubuh masih hijau pale dengan sedikit lebih gelap pada sisi lateral tubuhnya, kaki tampak lebih gelap daripada warna tubuh (Kalshoven, 1981).

Gambar 2.4 Rhopalosiphum maidis (tidak bersayap)
(sumber: http://www.aphidweb.com/)

Kutu dewasa ada beberapa yang memiliki sayap (alate) dan yang tidak memiliki saya (apterous). Sayap pada kutu ini memiliki panjang antara 0,04 to 0,088 inchi. Tubuh kutu dewasa berwarna kuning kehijauan sampai berwarna hijau gelap(Kalshoven, 1981).
Populasi kutu ini dapat dikontrol dengan kehadiran Aphelinus maidis. A. maidis akan memparasit kutu ini pada fase nympha. Selain itu, terdapat juga organisme predator seperti Allograpta sp. dan beberapa jenis kumbang (Kalshoven, 1981).

5. Valanga nigricornis

Daur hidup Valanga nigricornis termasuk pada kelompok metamorfosis tidak sempurna. Pada kondisi laboratorium (temperatur 28 °C dan kelembapan 80 % RH) daur hidup dapat mencapai 6,5 bulan sampai 8,5 bulan. Fekunditas rata-ratanya mencapai 158 butir. Keadaan yang ramai dan padat akan memperlambat proses kematangan gonad dan akan mengurangi fekunditas (Kok, 1971).
Metamorfosa sederhana (paurometabola) dengan perkembangan melalui tiga stadia yaitu telur, nimfa, dan dewasa (imago). Bentuk nimfa dan dewasa terutama dibedakan pada bentuk dan ukuran sayap serta ukuran tubuhnya.

Gambar 2.5 Valanga nigricornis
(Sumber: http://www.forestpests.org/subject.html?SUB=282)

Alat-alat tambahan lain pada caput antara lain : dua buah (sepasang) mata facet, sepasang antene, serta tiga buah mata sederhana (occeli). Dua pasang sayap serta tiga pasang kaki terdapat pada thorax. Pada segmen (ruas) pertama abdomen terdapat suatu membran alat pendengar yang disebut tympanum. Spiralukum yang merupakan alat pernafasan luar terdapat pada tiap-tiap segmen abdomen maupun thorax. Anus dan alat genetalia luar dijumpai pada ujung abdomen (segmen terakhir abdomen) (Kalshoven, 1981).
Pengendalian populasi hama ini dapat dengan menggunakan ekstrak daun dan biji nimba (Azadirachta indica). Pengujian ekstrak ini terhadap hambatan makan belalang, menunjukkan adanya kenaikan sejalan dengan meningkatnya konsentrasi ekstrak nimba (Dahelmi, 2008).

6. Coptotermes curvignathus
Banyak ditemukan di daerah tropika dan subtropika dengan 45 % spesiesnya terdapat di daerah tropis. Bersarang di atas ataupun di bawah tanah pada batang pohon yang mati dan banyak menyerang kayu-kayu konstruksi pada bangunan dengan sifat serangannya yang meluas. Hal ini menjadikan rayap C. curvignathus sebagai rayap yang menimbulkan kerugian ekonomis yang besar.

Gambar 2.6 Coptotermes curvignathus
(sumber: http://www.termitesurvey.com/distribution/images)

C. curvignathus memiliki kandungan populasi flagelata yang tinggi dalam saluran pencernaannya. Hal tersebut jika dikaitkan dengan kenyataan bahwa rayap C. curvignathus merupakan rayap perusak kayu yang paling ganas di Indonesia. Daya rusaknya yang sangat hebat nampaknya didukung oleh daya cerna selulosa yang tinggi sehubungan dengan tingginya populasi flagelatanya dengan rata-rata 4682 ekor flagelata/rayap. Di Sumatera bagian tengah, dilaporkan bahwa hama ini dapat merusak tanaman Acacia sp. usia 1 tahun sebanyak 10-50 % (Nair, 2000).

Pengendalian populasi rayap ini dapat menggunakan kitosan. Kitosan mampu meningkatkan derajat ketahanan kayu seiring dengan semakin tingginya konsentrasi kitosan. Sifat trofalaksis rayap dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan rayap menggunakan kitosan. Kitosan bekerja sebagai racun perut, sehingga dapat mengganggu kinerja protozoa dalam sistem pencernaan rayap dan secara perlahan akan mematikan rayap (Zakiah dkk., 2007).
Senyawa kitosan yang berasal dari limbah kulit rajungan dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pengawet kayu untuk meningkatkan ketahanan kayu terhadap serangan rayap tanah Coptotermes curvignathus. Limbah kulit rajungan sebagai salah satu sumber daya lokal dapat dimanfaatkan untuk bahan pengawet kayu yang ramah lingkungan sehingga dapat mengurangi penggunaan bahan kimia (Zakiah dkk., 2007).

7. Bag worms
Hama ini dinamakan ulat kantong dikarenakan pada fase larva, hama ini akan membentuk struktur seperti kantong dan larva akan tinggal di dalam kantong tersebut sampai dewasa. Pada fase larva kelompok hama ini hanya akan menggerakkan kepala dan thoraknya saja yang terbuat dari kitin ketika sedang makan (Kalshoven,1981).
Hama betina tidak dapat melakukan metamorfosis secara sempurna sehingga tampak seperti “pupa” biasa. Betina ini tidak mempunyai sayap berbeda dengan jantan yang memiliki sayap karena mengalami metamorfosis yang sempurna.

1. Cryptothelea sp.
Hama jenis ini secara umum menyerang tanaman secara umum (polyphagus). Larva hama ini berukuran 4-7 cm dan diselimuti oleh material-material kering yang berasal dari bagian tanaman di sekitarnya. Betina mampu memproduksi sampai 450 butir telur untuk satu kali bertelur.

Gambar 2.7 Gambar Cryptothelea sp. (fase dewasa)
(sumber: http://www.mothphotographersgroup.msstate.edu/Files/JV/J…)

2. Ammatisa sp.
Hama ini pada fase larva akan membentuk kantong yang menyerupai ujung panah atau piramida dengan ukuran (6×36 mm). Hama ini juga bersifat polyphagus.
3. Pteroma plagiohelps
Hama ini pada fase larva akan membentuk kantong yang kecil tidak lebih dari 16 mm dan diselimuti oleh material-material daun yang telah kering. Ketika memasuki fase pupa, kantong akan berubah menjadi bentuk elips dan akan menggantung pada bagian bawah cabang (Kalshoven, 1981).
Hama ulat kantung ini memiliki musuh alami yang dapat digunakan untuk usaha pengendalian populasinya, yaitu Nealsomyia rufella, Exorista psychidarum, Thyrsocnema caudagalli, dan beberapa nematoda entomophagus (Kalshoven, 1981).

8. Heliopeltis sp.

Kutu penghisap (Heliopeltis sp.) meupakan hama yang penting di hutan tanaman industri di Sumatra. Kutu ini juga dikenal sebagai hama yang menyerang beberapa tanaman hortikultura dan perkebunan di daerah tropis, misalnya teh dan coklat. Kerusakan yang disebabkan oleh kutu ini terhadap Acacia sp. telah dilaporkan terjadi di Malaysia dan Filipina yang merusak tanaman ini pada umur 6 sampai 18 bulan. Bagian tanaman yang diserang hama ini akan tampak menjadi nekrosis dan bahkan dapat menimbulkan kematian pada pucuk tanaman (Kalshoven, 1981).

Gambar 2.8 Heliopeltis sp.
(sumber: ditjenbun.deptan.go.id/perlinbun/linbun/index)

Kematian pucuk tanaman kemungkinan disebabkan oleh racun yang diinjeksikan oleh kutu ini. Beberapa perusahaan menggunakan urea untuk meningkatkan kekebalan tanaman ini terhadap serangan kutu dan juga mengaplikasikan insektisida. Serangan hama ini dapat menyebabkan kematian pada pucuk tanaman sehingga pucuk tanaman menjadi kering (Nair, 2000).

9. Xylosandrus compactus
Hama ini berukuran kecil (1/16 inchi), berwarna hitam cerah, dan berbentuk silinder. Lubang yang dibuat hama ini memiliki lebar sebesar 1/32 inchi yang terletak di bawah cabang. Hama ini terdapat di Sumatra, Vietnam, dan Afrika (Kalshoven, 1981).

Kumbang betina merupakan penyebab kerusakan yang paling serius karena kumbang betinalah yang melubangi batang untuk membuat jalan masuk. Saluran yang terbentuk oleh kumbang betina ini akan menjadi “ladang jamur”. Jamur-jamur yang tumbuh ini akan menjadi makanan bagi larva-larva jika sudah menetas. Pada fase larva, hama ini tidak memiliki kaki. Pada fase pupa, hama ini sudah tampak seperti induk dewasanya dan telah memiliki kepala, sayap, dan anggota tubuh (Anonim, 2005).

Gambar 2.9 Xylosandrus compactus
(sumber: http://www.extento.hawaii.edu/Kbase/view/beetles.htm)

Betina dapat bertelur sebanyak 30-50 butir. Telur menetas setelah 5 hari. Setelah melengkapi pertumbuhannya selama 10 hari, larva akan berubah menjadi pupa. Fase dewasa terjadi setelah fase pupa berlangsung selama 1 minggu. Populasi kumbang ini dapat dikontrol dengan kehadiran Tetrastichus xylebororum yang merupakan parasit dari kumbang ini (Kalshoven, 1981).

B. Mite (tungau)
Tungau merupakan salah satu anggota dari kelompok arthopoda selain insecta, crustacean, dan mryapoda. Tungau termasuk dalam kelompok arachnida yang anggotanya terdiri atas laba-laba dan tungau itu sendiri. Ciri khas yang membedakan kelompok ini dengan insecta adalah jumlah kakinya yang mencapai 4 pasang, berbeda dengan insecta yang hanya memiliki 3 pasang kaki (Denmark, 2006).
Tungau yang menyerang tanaman Acacia sp. adalah Brevipalpus californicus. Brevipalpus californicus sering kali disebut juga sebagai tungau omnivora. Hal ini disebabkan karena di Amerika Serikat hama ini menyerang banyak tanaman (polyphagus) dan dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang besar. Brevipalpus californicus telah banyak dilaporkan menyerang tanaman Acacia sp. di banyak Negara, diantaranya Algeria, Angola, Australia, Brazil, Kongo, Papua New Guinea, South Africa, Thailand, dan Amerika Serikat (Denmark, 2006).
Tungau betina memiliki panjang 228 mikrometer. Tungau ini berwarna kemerahan pada saat dewasa. Morfologi tubuhnya pipih dan berbentuk seperti segitiga dengan lebar kira-kira 2/3 panjang tubuhnya.

Tungau ini pernah dilaporkan menyerang tanaman Acacia sp. Mekanisme Brevipalpus californicus dalam menyerang tanaman inang adalah dengan menginjeksikan cairan toxic ke bagian tanaman inangnya. Gejala yang tampak adalah klorosis, bronzing, atau membentuk area nekrosis pada daun (Childers et al., 2005). Selain dapat menyebabkan kerusakan pada bagian tanaman yang diserang, tungau ini juga dapat berlaku sebagai vector pembawa penyakit.

Gambar 2.10 Brevipalpus californicus
(www.forestryimages.org)

Pengendalian populasi tungau ini dapat dilakukan dengan menggunakan musuh alami, misalnya adalah dengan menggunakan tungau predator (dari famili Phytoseiidae).

C. Nematoda (cacing)
Nematoda yang biasa menyerang tanaman Acacia sp. adalah Meloidogyne incognita. Nematoda ini merupakan hama yang dapat menyebabkan “kanker” pada akar. Sel –sel pada akar yang terinfeksi oleh cacing ini pertumbuhannya akan jauh dari normal dan akan tampak membesar seperti kanker (Kalshoven, 1981).
Meloidogyne pada stadium larva juvenil II akan menyerang bagian ujung akar yang bersifat meristematik. Sel-sel ini akan selalu mengadakan pembelahan dan pembelahannya dikendalikan oleh senyawa IAA. Pada saat nematoda menyerang tanaman, dari kelenjar subdorsal dikeluarkan enzim protease. Enzim ini akan memecah protein menjadi asam amino. Salah satu jenis asam amino hasil pemecahan adalah triptofan. Triptofan diketahui sebagai precursor terbentuknya IAA. Dengan semakin banyak IAA yang terbentuk mengakibatkan peningkatan pembelahan sel. Oleh karena itu tanaman akan membentuk sel yang berukuran lebih besar (giant sel). Sebenarnya tujuan pembentukan puru ini bagi tanaman adalah untuk menghambat gerakan nematoda dalam jaringan (Anonim, 2008)
Cacing betina dewasa meletakan telurnya pada sebuah kantung pada bagian posterior tubuhnya. Sel telur yang diprodiksi dapat mencapai 3000 butir. Pada waktu tertentu, telur tersebut akan menetas dan berubah menjadi larva juvenil I akan tetapi masih beada di dalam kantung induknya. Setelah larva ini lepas dari kantung induknya, larva ini berubah menjadi larva juvenil II yang berukuran (0,4-0,5 mm). Larva juvenil II ini sudah memiliki bentuk seperti cacing. Mereka dapat bergerak bebas di dalam tanah dan akan segera tertarik dengan eksudat yang dikeluarkan oleh akar tanaman. Mereka mulai mempenetrasi jaringan akar dan mencari tempat dekat dengan jaringan pembuluh. Setelah cacing tersebut menginvestasikan dirinya pada jaringan di akar maka cacing tersebut akan memulai simbiosis parasitismenya dengan tanaman inang (Kalshoven, 1981).

Gambar 2.11. Meloidogyne incognita
(sumber: http://www.nature.com/…/v96/n4/fig_tab/6800794f1.html)

Keterangan gambar:
a. Larva juvenil II yang bersifat infektif
b. Cacing betina dewasa dengan kantung telur pada bagian posterior (h= bagian anterior)
c. Gejala yang tampak pada akar akibat serangan Meloidogyne incognita

Kerusakan yang ditimbulkan oleh cacing ini tidak terlalu nyata. Gejala yang tampak adalah menurunnya jumlah suplai makanan dan pertumbuhan yang stagnant. Tanaman muda yang terserang hama ini akan lebih menderita lebih parah jika dibandingkan dengan tanaman yang dewasa. Kerusakan lebih serius terjadi pada tanaman muda yang ditanam pada periode yang bersamaan (Kalshoven, 1981).
Pengendalian populasi hama ini dapat dilakukan dengan pemberian pengaruh fisik. Misalnya dengan pengeringan dan pemanasan tanah. Pemberian pengaruh seperti ini dapat memaksa cacing ini untuk keluar dari jaringan akar. Perendaman dengan air dapat mencegah perkembangan larva juvenil dan cacing dewasa akan tetapi tidak dapat menghambat perkembangan telur (Anonim, 2008). Selain itu pengendalian Meloidogyne spp. dapat dilakukan secara biologi dengan menggunakan Pasteuria penetrans (Panggeso dan Mulyadi, 1999).

III. KESIMPULAN

Berdasarkan keterangan di atas maka dapat disimpulkan bahwa terdapat berbagai macam jenis hama yang menyerang Acacia sp., yaitu:
• Pteroma plagiophelps, Amatissa sp., Cryptothelea sp. (Ulat kantong)
• Xystrocera festiva (Penggerek batang)
• Coptotermes curvignathus (Rayap)
• Valanga nigricornis (Belalang)
• Aegus acuminatus (Penggerek batang)
• Eurema sp. (Kupu-kupu kuning)
• Rhopalosiphum maidis (Kutu)
• Heliopeltis sp. (kutu)
• Xylosandrus compactus (Pengebor batang)
• Brevipalpus californicus (tungau)
• Meloidogyne incognita (nematoda)

DAFTAR REFERENSI

Anonim. 2005. Xylosandrus compactus (insect,). http://www.issg.org. Diakses tanggal 13 Juni 2008

Anonim. 2008. Gejala Serangan Nemotoda. http://mail.uns.ac.id/~subagiya. diakses tanggal 13 Juni 2008

Anonim. 2008. Trees In Agricultural Systems. http://www.echotech.org/. Diakses tanggal 10 Juni 2008

Badan Litbanghut. 1999. Pedoman Teknis Penanaman Jenis-jenis Kayu Komersial. Departemen Kehutanan, Jakarta

Childers C.C., Mc Coy C.W., Nigg H.N., Stansly P.A., Rogers M.E. 2005. Florida citruss pest management guide: rust mites, spider mites, and other phytophagous mites. http://edis.ifas.ufl.edu/CG002 diakses tanggal 1 Juni 2008

Dahelmi. 2008. Pengaruh Ekstrak Nimba (Azadirachta Indica A. Juss) terhadap Aktivitas Makan Belalang Valanga Nigricornis Burm. http://anekaplanta.wordpress.com/. Diakses 12 Juni 2008

H.A. Denmark. 2006. Brevipalpus californicus (Banks) (Arachnida: Acari: Tenuipalpidae). DPI Entomology Circulars, Florida

Hidayat, Y and A Kuvaini. 2005. The Keefektifan Ekstrak Daun Surian (Toona sinensis Roem) Dalam Pengendalian Larva Boktor (Xystrocera festiva Pascoe). Agrikultura 16: 133-136.

Kalshoven, L.G.E. 1981. Pest of Crops in Indonesia. PT Ichtiar Baru, Jakarta

Kazuma Matsumoto and Ragil S. B. Irianto. 1994. Ecology and Control of the Albizzia Borer, Xystrocera festiva. http://www.jircas.affrc.go. diakses tanggal 12 Juni 2008

Kherudin. 1994. Pembibitan Tanaman HTI. Penebar Swadaya, Jakarta

Kok M.L. 1971. Laboratory studies on the life-history of Valanga nigricornis. Bulletin of Entomological Research 60, 439-446

Mau, R.F.L. and J.L.M., Kessing. 1992. Rhopalosiphum maidis (Fitch). http://www.extento.hawaii.edu/Kbase/Crop/Type/rhopalos.htm. diakses tanggal 12 Juni 2008

Nair, K.S.S. 2000. Insect Pests and Diseases in Indonesian Forests: of the major threats, research efforts and literature. CIFOR, Bogor
Nayar, K.K., T.N. Ananthakrishnan, and B.V David. 1976. General and Applied Entomology. Mc Graw-Hill Publishing co. ltd., New Delhi

Panggeso, J. dan Mulyadi. 1999. Perkembangan bakteri Pasteuria penetrans pada nematoda puru akar (Meloidogyne spp.). Jurnal Agroland. v. 6(1-2) p. 82-87

Zakiah, S., Purnomo, D., Nugraheni, E., dan Adi Setiadi. 2007. Pemanfaatan Limbah Kulit Rajungan untuk Pengendalian Rayap Tanah. Http://Adioke.Multiply.Com/Journal/Item/9. Diakses Tanggal 12 Juni 2008

http://www.nature.com/…/v96/n4/fig_tab/6800794f1.html. diakses tanggal 30 Mei 2008

http://www.forestryimages.org diakses tanggal 30 Mei 2008

http://www.extento.hawaii.edu/Kbase/view/beetles.htm. diakses tanggal 30 Mei 2008

http://www.mothphotographersgroup.msstate.edu/Files/JV/J. diakses tanggal 1 Juni 2008

http://www.termitesurvey.com/distribution/images. diakses tanggal 1 Juni 2008

http://www.forestpests.org/subject.html?SUB=282. diakses tanggal 28 Mei 2008

http://www.aphidweb.com/ diakses tanggal 28 Mei 2008

http://www.flickr.com/photos/fbmagpie/1721946568. diakses tanggal 28 Mei 2008

http://www.pbase.com/uplepidoptera/family_pieridae. diakses tanggal 28 Mei2008

http://www.malaeng.com/blog/index.php?paged=15. diakses tanggal 28 Mei 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: