Posted by: pribadiavry | February 16, 2010

BEBERAPA HAMA DAN PREDATORNYA PADA TEGAKAN JABON (Anthocephalus cadamba)

BEBERAPA HAMA DAN PREDATORNYA PADA
TEGAKAN JABON (Anthocephalus cadamba)

Pests and its predator at jabon plantation (Anthocephalus cadamba)

Avry Pribadi
Balai Penelitian Hutan Penghasil Serat, Kuok

Abstract
Jabon as alternative species for pulp and paper industry has general problems in the plantation. One of the problem is pest attack that can reduce standing stock. The activity for inventaring pest and it predator should be done immediately before the pulp and paper industry begin for planting jabon. The aim of this review was to identify pest species of Anthocephalus cadamba at three location (HTI, HR, and BPHPS Kuok). There are many pests insect that attack Jabon were found. Cosmoleptrus sumatranus, Arthroschista hilaralis, Zeuzera sp., Coptotermes sp., and Daphnis hypothous were identified as major pest. In spite of Dysdercus cingulatus, Melanura pterolophia, Hypomeces squamossus, Lawana sp., and Cicadulina sp. were identified as minor pest. The preadator that founded were Evagoras surdidulus, Insyndrus sp., Oecophylla saragillina, and the other species is Sycanus sp.

Key words: pest, predator, jabon, inventaritation

Abstrak

Jabon sebagai salah satu jenis tanaman alternatif untuk industri pulp and paper memiliki beberapa masalah sebagai hutan tanaman. Salah satu masalah tersebut adalah serangan hama yang dapat mengurangi tegakan. Meskipun perusahaan HTI belum memulai untuk menanam jabon, kegiatan menginventarisasi berbagai jenis hama dan predator harus terlebih dahulu dilakukan. Kegiatan inventarisasi hama yang menyerang jabon ini merupakan suatu kegiatan untuk memperoleh informasi terbaru mengenai jenis hama yang menyerang tegakan jabon. Data yang diperoleh dapat dijadikan data base pengendalian hama pada tegakan jabon. Jenis-jenis hama mayor yang menyerang jabon diantaranya adalah Cosmoleptrus sumatranus, Arthroschista hilaralis, Zeuzera sp., Coptotermes sp., dan Daphnis hypothous, sedangkan hama minor yang menyerang jabon, yaitu Dysdercus cingulatus, Melanura pterolophia, Hypomeces squamossus, Lawana sp., dan Cicadulina sp. Beberapa serangga predator yang ditemukan antara lain adalah Evagoras surdidulus, Insyndrus sp., dan semut rangrang, sedangkan serangga lain yang berpotensi sebagai predator adalah Sycanus sp.

Kata kunci: hama, predator, jabon, inventarisasi
I. PENDAHULUAN

Selama ini, perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) pulp and paper lebih banyak menggunakan spesies Acacia dan Eucalyptus untuk memenuhi kebutuhan pasokannya. Pemanfaatan kedua spesies ini bahkan semakin intensif. Hal ini dikarenakan kedua jenis tanaman ini merupakan spesies yang termasuk fast growing dan tidak memerlukan persyaratan hidup yang rumit. Namun, pemanfaatan yang terus menerus akan menimbulkan masalah baru yaitu munculnya hama yang dapat menurunkan tegakan (standing stock) per hektarnya yang penurunannya cenderung meningkat setiap rotasi. Bahkan laporan dari PT RAPP mengatakan bahwa tegakan Acacia dan Eucalyptus berkecenderungan mengalami peningkatan serangan hama setiap kali dilakukan penanaman baru (rotasi berikutnya). Bahkan Nair (2001) menyatakan bahwa serangan rayap Coptotermes curvighatus dapat menurunkan tegakan Acacia sebesar 10%-50% di Malaysia.
Saat ini beberapa perusahaan HTI mulai memikirkan spesies alternatif untuk menggantikan Acacia dan Eucalyptus. Jabon (Anthocephalus cadamba) merupakan salah satu tanaman alternatif pulp and paper karena memenuhi persyaratan yang diharuskan (Lemmens, 1993). Salah satunya adalah panjang serat 1,561 µm, diameter serat 23,95 µm, dan tebal dinding serat 2,78 µm (Aprianis, 2007).
Sebagai suatu ekosistem yang homogen, kawasan hutan tanaman rentan terhadap serangan hama. Populasi tanaman hutan yang homogen akan mudah diserang dan berpotensi terjadi blooming hama. Hal ini dapat terjadi karena sumber makanan bagi organisme pengganggu tanaman tersebut melimpah sedangkan organisme predatornya kurang tersedia.
Inventarisasi hama dan predatornya jabon merupakan kegiatan penting sebelum tindakan terhadap serangan hama diambil. Langkah ini menjadi penting karena jika terjadi kesalahan dalam mengidentifikasi jenis hama akan dapat menimbulkan permasalahan baru, seperti munculnya serangan hama baru sebagai akibat dari kesalahan dalam pemilihan tindakan pengendalian. Selain itu, pengendalian secara kimia selain dapat membunuh hama, juga dapat membunuh serangga predator itu sendiri sehingga dapat menyebabkan outbreaks yang lebih besar lagi. Manfaat yang lain adalah dapat mengetahui jenis predator yang dapat digunakan sebagai agen pengendali serangan hama dan memanfaatkan jasa serangga tersebut pada masa akan datang.
Oleh sebab itu kegiatan inventarisasi hama dan predatornya pada spesies alternatif ini merupakan suatu kegiatan penyusunan data base terhadap berbagai jenis hama dan predatornya pada tanaman jabon. Dengan demikian, diharapkan ketika perusahaan HTI pulp and paper akan beralih menggunakan spesies ini, maka paket informasi mengenai jenis hama dan teknologi pengendaliannya telah tersedia. Kajian ini bertujuan untuk mempelajari keberadaan jenis hama dan predatornya pada tanaman jabon (Anthocephalus cadamba) di 3 lokasi, yaitu HTI PT RAPP sektor Baserah dan Pelalawan, Hutan Rakyat (HR) di Pantai Cermin kabupaten Kampar, dan persemaian Balai Penelitian Hutan Penghasil Serat (BPHPS) Kuok, Riau.

II. HAMA MAYOR PADA TEGAKAN JABON
Beberapa hama yang dimasukkan ke dalam kelompok hama mayor didasarkan atas pengamatan di lapangan dan sejarah (history) dari hama itu sendiri berdasarkan referensi yang diperoleh. Beberapa hama mayor yang ditemukan menyerang tanaman Jabon (Anthocephalus cadamba) ditampilkan pada Tabel 1.

Tabel (Table) 1. Berbagai jenis hama mayor yang menyerang Anthocephalus cadamba (Major pests of Anthocephalus cadamba).
No Hama mayor (Major pest) Lokasi ditemukan (Location that pest founded)
1. Cosmoleptrus sumatranus (hemiptera). HTI Baserah dan Pelalawan, HTR/HR, dan BPHPS (HTI Baserah and Pelalawan sector, HTR/HR, and BPHPS).
2. Arthroschista hilaralis (lepidoptera). HTI Baserah dan Pelalawan, HTR/HR, dan BPHPS (HTI Baserah and Pelalawan sector, HTR/HR, and BPHPS).
3. Zeuzera sp. (lepidoptera). HTR/HR.
4. Coptotermes sp. (isoptera). HTI Pelalawan (HTI Pelalawan sector).
5. Daphnis hypothous (lepidoptera). HTI Baserah (HTI Baserah sector).
Pada Tabel 1, terlihat bahwa Cosmoleptrus sumatranus, Arthroschista hilaralis, Zeuzera sp., Coptotermes sp., dan Daphnis hypothous dikelompokkan dalam hama mayor karena kemampuan merusak yang tinggi. Berdasarkan pengamatan di lapangan, A. hilaralis memiliki rata-rata tingkat merusak pada lokasi HTI sektor Baserah sebesar 92,88% (tabel 2), sedangkan Daphnis hypothous pernah menyebabkan kerusakan hebat pada kebun pangkas milik BPHPS Kuok. Coptotermes sp. dimasukkan ke dalam kelompok hama mayor karena berdasarkan laporan terdahulu dinyatakan bahwa serangan rayap Coptotermes sp. banyak terjadi pada tegakan Acacia crassicarpa pada lahan gambut sedangkan Zeuzera sp. merupakan hama yang umum menyerang tanaman kopi dan dilaporkan juga oleh PT Arara Abadi mulai menyerang tegakan Eucalyptus.

Tabel (Table) 2. Rata-rata tingkat kerusakan daun oleh serangan A. hilaralis (Average of Foliage Damage level caused by A. hilaralis).
No Plot (Plot no) HTI sektor Baserah (Baserah sector) (%) HTI sector Pelalawan (Pelalawan sector) (%) HR (Community forest) (%) BPHPS

Rataan (average) 92,88 40,50 55,67 69,00

Cosmoleptrus sumatranus (gambar 1) merupakan hama yang bersifat polyphagus. Nympha dan serangga dewasa menyerang tanaman pada bagian pucuk dan daun muda. Tingkat kerusakan oleh tanaman tergantung pada tingkat perkembangan dan pertumbuhan tanaman ketika diserang. Daun muda yang diserang hama ini akan layu setelah dihisap cairannya. Setelah beberapa lama, daun tersebut akan kering dan mati. Kematian pucuk ini akan mengakibatkan munculnya “trubusan”, sehingga akan muncul 2-3 cabang baru. Kemunculan cabang-cabang baru ini dapat menyebabkan tegakkan kurang dapat tumbuh baik seperti yang disyaratkan. Hama ini aktif menyerang pada pagi dan sore hari. Hama ini terdapat pada seluruh area penelitian (HTI, HR, dan BPHPS) pada tingkat lapangan dan tidak dijumpai pada persemaian.
Cosmoleptrus sumatranus memiliki bentuk tubuh menyerupai perisai. Serangga ini berwarna kecoklatan dengan panjang tubuh dewasanya sekitar 14 mm sampai 19 mm. Pada bagian dorsal tubuh terdapat semacam garis yang berbentuk panah berwarna hitam. Anggota tubuhnya tampak seperti ranting tua. Anggota tubuhnya terdiri atas 3 segmen. Serangga ini memiliki 1 pasang antena dan bagian rostrum yang terdiri atas 4 bagian. Leaf footed bugs ini memiliki bentuk tubuh yang relatif bersifat datar (flattened).

Gambar (Figure) 1. C. sumatranus dewasa Gambar (Figure) 2. A. hilaralis dewasa
(Adult of Cosmoleptrus sumatranus). (Adult of Arthroschista hilaralis).

Arthroschista hilaralis (gambar 2) merupakan hama defoliator yang umumnya merusak tanaman jabon dengan memakan daun. Fase yang merusak adalah ketika hama ini mencapai tingkat larva. Pada instar pertama dan kedua, ulat hanya memakan jaringan lunak (epidermis) daun dengan dilapisi oleh semacam silky web. Serangan hama ini dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan jika hama ini menyerang tanaman pada tingkat persemaian maka dapat mengakibatkan kematian karena tanaman tersebut kehilangan daun. Mereka memakan daun yang masih muda pada waktu pagi dan siang hari, sedangkan fase dewasanya aktif pada malam hari. Hama ini dijumpai di seluruh area penelitian (HTI, HR, dan BPHPS).
Ngengat Arthroschista hilaralis pada fase dewasa memiliki warna hijau kebiruan dengan panjang tubuh mencapai 34 mm. Larva memiliki warna hijau bening dengan warna coklat hitam pada bagian kepala dan memiliki panjang mencapai 25 mm. Sedangkan Zeuzera sp. pada fase larva memiliki panjang sekitar 30-40 mm dengan sedikit bulu (setae). Larva hama ini berwarna merah kecoklatan dan memiliki cincin segmen berwarna kuning. Pada fase dewasa, ngengat hama ini berwarna putih dengan titik-titik berwarna hitam pada sayapnya.

Gambar (Figure) 3. Larva Zeuzera sp. Gambar (figure) 4. Larva D. hypothous
(Larvae of Zeuzera sp.) (Larvae of Daphnis hypothous)).

Zeuzera sp. (gambar 3) merupakan hama yang dapat menyebabkan kerusakan cabang. Hama ini memakan jaringan tumbuhan berupa xylem dan pholem. Kerusakan jaringan ini akan berdampak pada kematian cabang. Ulat ini meninggalkan cabang yang telah diserangnya dan berpindah ke cabang lainnya dengan mengebor sisi ventral cabang yang baru. Larva hama ini aktif pada siang hari, sedangkan dewasanya aktif pada malam hari. Hama ini hanya ditemukan pada area HTR/HR saja dan tidak ditemukan di lokasi penelitian yang lain. Diduga hama ini berasal dari tanaman karet dari perkebunan di sekitar area HTR/HR dengan memanfaatkan angin.
Coptotermes sp. (gambar 5) merupakan hama penting pada HTI di lahan gambut. Hama ini menyerang tanaman Jabon dimulai dari bagian tunggak akar, lalu membentuk terowongan dari pasir di sepanjang batang. Menurut Kalshoven (1981), rayap ini akan membentuk terowongan yang terbuat dari bahan organik yang diameternya mencapai 6 mm dan panjangnya dapat mencapai 90 m. Pada fase awal tanaman yang terserang hama ini terlihat seperti tanaman sehat, tetapi jika dilihat secara lebih teliti pada tunggak akarnya terlihat tidak solid lagi akibat dari aktivitas rayap ini.
Coptotermes sp. merupakan hama yang morfologinya menyerupai semut. Ukuran rayap ini dapat mencapai 6 mm terutama rayap prajurit. Menurut Kalshoven (1981), suatu koloni rayap Coptotermes sekitar 12% merupakan rayap prajurit dan sisanya merupakan rayap pekerja. Morfologi rayap pekerja lebih kecil jika dibandingkan dengan rayap prajurit. Pada rayap prajurit memiliki rahang yang berukuran relatif besar. Hama ini memiliki warna orange muda sampai keputihan. Rayap prajurit ini akan mengeluarkan semacam cairan putih jika menggigit.
Hama ini menyerang Jabon yang berumur lebih dari 1 tahun pada tingkat lapangan. Hama ini umum ditemukan pada tanah gambut yang sebelumnya pernah ditanami Acacia crassicarpa dan tidak terdapat pada tanaman Jabon di lahan mineral (HTI, HR, dan BPHPS Kuok). Dilaporkan bahwa Coptotermes sp. memiliki preferensi yang tinggi terhadap tanah yang mengandung bahan organik yang tinggi (Anonim, 2009). Pertumbuhan populasi tertinggi berturut-turut terdapat pada tanah gambut, serasah daun, serbuk gergaji, sedangkan pada tanah mineral dan pasir pertumbuhan populasinya lebih rendah.

Gambar (Figure) 5. Coptotermes sp.

Daphnis hypothous termasuk hama defoliator yang dapat menyebabkan kerusakan yang besar pada tanaman Jabon, karena akan memakan daun Jabon terutama daun muda. Menurut Kalshoven (1981), hama ini banyak menyerang tanaman dari famili rubiaceae, contohnya adalah Gambir, Guettarda, dan Ixora. Kerusakan pada daun ini dapat berakibat pada pada efektivitas fotosintesa oleh tanaman. Jika serangan hama ini terjadi dalam jumlah yang besar dapat berakibat pada kematian tanaman. Ciri-ciri keberadaannya dapat dilihat dari kotorannya yang berwarna hitam kecoklatan dan berbentuk seperti pelet. Larva hama ini aktif pada siang hari sedangkan fase dewasanya aktif pada malam hari. Hama ini ditemukan pada areal HTI Baserah yang memiliki tipe tanah mineral dan bahkan pernah menyerang areal kebun perbanyakan vegetatif BPHPS Kuok dan menyebabkan kerusakan yang besar.
Daphnis hypothous pada fase larva berwarna hijau dan memiliki tanduk yang unik dan berwarna coklat pada bagian posterior tubuhnya. Larva ini memiliki ukuran panjang sekitar 50-60 mm dengan ukuran maksimal mencapai 105 mm. Tubuh defoliator ini bersegmen dan tidak berbulu serta memiliki 5 pasang kaki semu pada bagian ventral tubuhnya dan 3 pasang kaki kecil pada bagian thorak (Pracaya, 2008). Sepanjang tubuhnya terdapat garis putih kekuningan yang memanjang dari bagian anterior ke posterior pada bagian dorsalnya. Pada fase pupa, serangga ini berwarna coklat gelap. Ukuran pupa ini dapat mencapai 60 mm. Pada fase dewasa, ngengat ini memiliki bentangan sayap mencapai 120 mm. Secara umum, ngengat ini berwarna coklat kehitaman dengan warna hijau gelap pada bagian abdomen.

III. HAMA MINOR PADA TEGAKAN JABON
Pada tabel 3 dapat dilihat berbagai jenis hama minor yang menyerang tegakan jabon. Hama-hama tersebut dikelompokan ke dalam hama minor karena persentase serangannya kurang dari 1% dan tidak menunjukkan tingkat kerusakan sebesar yang dilakukan oleh hama mayor. Bahkan sebagian merupakan hama yang memiliki kisaran inang yang luas (polyphagus). Contohnya adalah Lawana sp. dan Cicadulina sp.
Beberapa hama minor yang berpotensi menyerang adalah Melanura pterolophia. Hama ini merupakan kumbang yang bertipe stem borer. Hama ini merusak batang utama dengan cara mengebornya. Hama lain yang bertipe penghisap cairan tumbuhan baik pada pucuk tanaman dan daun muda adalah Dysdercus cingulatus, Lawana sp. dan Cicadulina sp. Serangan larva Lawana sp. menyerupai kutu putih namun berukuran lebih besar, daun yang terserang tampak keputihan. Sedangkan Hypomeces squamossus, serangan yang dilakukan adalah dengan memakan jaringan tumbuhan terutama jaringan yang muda.

Tabel (Table) 3. Berbagai jenis hama minor yang menyerang Anthocephalus cadamba (Minor pests of Anthocephalus cadamba).

No Hama minor (Minor pest) Lokasi ditemukan (Location that pest founded)
1. Melanura pterolophia (coleoptera) HTI Baserah (HTI Baserah sector)
2. Hypomeces squamossus (coleoptera) HTI Baserah (HTI Baserah sector)
3. Lawana sp. (homoptera) HTI Baserah dan HR (HTI Baserah sector and HR)
4. Cicadulina sp. (homoptera) HR
5. Dysdercus cingulatus (hemiptera) HTI Baserah, HR, dan BPHPS (HTI Baserah and Pelalawan sector, HR, and BPHPS)

Melanura pterolophia merupakan kumbang yang memiliki ukuran mencapai 15 mm dan berwarna abu-abu. Pada bagian anteriornya, serangga ini memiliki sepasang antena yang bentangannya mencapai 16 mm. Sedangkan Hypomeces squamossus merupakan kumbang yang berukuran panjang mencapai 15 mm dan berwarna abu-abu sampai keputihan. Berbeda dengan Melanura pterolophia serangga ini tidak memiliki antena.
Dysdercus cingulatus merupakan serangga yang berukuran panjang mencapai 15 mm. Secara umum serangga ini berwarna merah dengan 2 noda hitam pada bagian sayapnya. Pada bagian kepala, terdapat garis hitam dan putih. Menurut
Pracaya (2008), hama ini biasa hidup secara berkelompok.
Lawana sp. pada fase dewasa berukuran panjang mencapai 20 mm dan berwarna putih kekuningan. Pada fase larva, serangga hama ini berwarna putih dan apabila sedang istirahat kedua sayapnya akan tegak sehingga akan tampak seperti ngengat (moth). Ukuran larva ini bervariasi tergantung pada fase larvanya (umumnya 5-10 mm). Pada saat larva, hama ini tampak seperti kutu putih dengan lapisan lilin yang melindunginya.
Cicadulina sp. termasuk serangga yang berukuran kecil (2 mm). Hama ini memiliki mobilitas yang tinggi dengan cara melompat dan oleh sebab itu serangga ini disebut juga sebagai leaf hopper. Serangan hama ini selain dengan menghisap cairan tumbuhan juga dapat menularkan berbagai macam penyakit virus (Pracaya, 2008).

IV. SERANGGA PREDATOR PADA TEGAKAN JABON

Perusahaan HTI pulp and paper menyaratkan spesies yang akan dijadikan kebun kayu salah satunya harus memiliki kemampuan untuk tumbuh cepat (fast growing). Kecepatan pertumbuhan suatu tanaman dipengaruhi oleh banyak hal, salah satunya adalah laju fotosintesa. Daun sebagai tempat fotosintesa memiliki peran yang penting dalam pertumbuhan dan apabila terganggu akan dapat menyebabkan hambatan dalam pertumbuhan.
Berdasarkan pengamatan A. hilaralis merupakan jenis serangga hama yang memiliki kemampuan merusak daun tertinggi pada tanaman jabon. Berdasarkan tabel 2, diperoleh informasi mengenai rata-rata tingkat kerusakan daun yang diakibatkannya mencapai 92,88%. Hal ini akan berdampak pada pertumbuhan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas tegakan.
Penanganan hama yang efisien, efektif, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan merupakan suatu kebutuhan yang harus dilakukan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan jasa serangga parasitoid. Pemanfaatan serangga predator tidak memerlukan biaya yang mahal. Ada beberapa serangga yang dapat dijadikan sebagai predator A. hilaralis, diantaranya adalah Insyndrus sp., Evagoras surdidulus, dan Sycanus sp. Ketiga serangga ini termasuk ke dalam famili reduviidae yang dikenal luas sebagai kelompok serangga predator.
Evagoras surdidulus (gambar 6) dan Insyndrus sp. (gambar 7) merupakan dua jenis serangga yang ditemukan pada lokasi penemuan hama di HR Pantai cermin, sedangkan Sycanus sp. merupakan jenis serangga predator yang telah banyak digunakan sebagai salah satu pengendali terhadap serangan hama. Sebagai contoh adalah pemanfaatan jasa Sycanus sp. untuk mengurangi populasi ulat grayak (Spodoptera sp.) pada tegakan Acacia crassicarpa di PT RAPP, Riau.
Mekanisme pengendalian oleh ketiga serangga predator ini adalah dengan memanfaatkan cairan tubuh mangsanya. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa Sycanus sp. memiliki jarum penghisap yang ada pada ujung mulutnya. Jarum ini digunakan untuk menusuk dan menghisap cairan tubuh mangsanya. Serangga predator ini memiliki preferensi terhadap hama yang masih berada dalam fase ulat dibandingkan fase dewasanya. Hal ini disebabkan pada fase ulat, hama akan mudah ditusuk karena lapisan kitin pada tubuh hama pada fase ulat masih sedikit dan belum menebal dan kemudian dihisap cairannya. Selain itu pada fase ulat, hama akan mudah diserang karena tingkat mobilitasnya masih rendah.

Gambar (Figure) 6. Evagoras surdidulus Gambar (Figure) 7. Insyndrus sp.

Contoh serangga predator lain yang ditemukan adalah dari kelompok semut. Ada beberapa jenis spesies yang ditemukan sedang mempredasi beberapa hama dari kelompok lepidoptera. Contohnya adalah semut rangrang (Oecophylla saragillina). Predator jenis ini berumah pada tanaman jabon itu sendiri dengan cara melipat daun sedemikian rupa sehingga bagian dalamnya bebas dari terpaan air hujan. Berbeda dengan beberapa predator di atas, semut rangrang menyerang mangsanya secara berkelompok.

V. KESIMPULAN
1. Hama mayor yang menyerang tanaman jabon adalah Cosmoleptrus sumatranus, Arthroschista hilaralis, Zeuzera sp., Coptotermes sp., dan Daphnis hypothous.
2. Hama minor yang menyerang jabon adalah Melanura pterolophia, Dysdercus cingulatus, Hypomeces squamossus, Lawana sp., dan Cicadulina sp.
3. Serangga predator yang ditemukan pada jabon adalah Evagoras surdidulus, Insyndrus sp., dan semut rangrang (Oecophylla saragillina), sedangkan serangga lain yang berpotensi sebagai predator adalah Sycanus sp.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Kajian Aspek Biologi Coptotermes curvignathus Holmgren Sebagai Dasar Pengendalian Rayap Pada Pertanaman Kelapa Sawit. http://library.usu.ac.id. Diakses 13 Oktober 2009

Aprianis, Y. 2007. Eksplorasi Jenis-Jenis Kayu yang Berpotensi sebagai Tanaman pulp Alternatif (Laporan Hasil Penelitian). Loka Litbang Kuok, Kuok

Kalshoven, I.G.E. 1981. Pests of Crops in Indonesia. PT Ichtiar Baru, Jakarta

Lemmens RHMJ. 1993. Plant Resources of South-East Asia. No. 5(1) Soerianegara I (edt): Timber trees: major commercial timbers. Backhuys Publishers, Leiden

Nair, K.S.S. 2001. Pest Outbreaks in Tropical Forest Plantation: Is there a greater risk for exotic tree species. CIFOR, Bogor

Pracaya, 2008. Hama dan Penyakit Tanaman: edisi revisi. Penerbit Swadaya, Jakarta

Yunafsi. 2007. Permasalahan Hama, Penyakit, dan Gulma dalam Pembangunan Hutan Tanaman Industri dan Usaha Pembangunannya. http://library.usu.ac.id. Diakses 13 Oktober 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: