BEBERAPA HAMA DAN PREDATORNYA PADA
TEGAKAN JABON (Anthocephalus cadamba)

Pests and its predator at jabon plantation (Anthocephalus cadamba)

Avry Pribadi
Balai Penelitian Hutan Penghasil Serat, Kuok

Abstract
Jabon as alternative species for pulp and paper industry has general problems in the plantation. One of the problem is pest attack that can reduce standing stock. The activity for inventaring pest and it predator should be done immediately before the pulp and paper industry begin for planting jabon. The aim of this review was to identify pest species of Anthocephalus cadamba at three location (HTI, HR, and BPHPS Kuok). There are many pests insect that attack Jabon were found. Cosmoleptrus sumatranus, Arthroschista hilaralis, Zeuzera sp., Coptotermes sp., and Daphnis hypothous were identified as major pest. In spite of Dysdercus cingulatus, Melanura pterolophia, Hypomeces squamossus, Lawana sp., and Cicadulina sp. were identified as minor pest. The preadator that founded were Evagoras surdidulus, Insyndrus sp., Oecophylla saragillina, and the other species is Sycanus sp.

Key words: pest, predator, jabon, inventaritation

Abstrak

Jabon sebagai salah satu jenis tanaman alternatif untuk industri pulp and paper memiliki beberapa masalah sebagai hutan tanaman. Salah satu masalah tersebut adalah serangan hama yang dapat mengurangi tegakan. Meskipun perusahaan HTI belum memulai untuk menanam jabon, kegiatan menginventarisasi berbagai jenis hama dan predator harus terlebih dahulu dilakukan. Kegiatan inventarisasi hama yang menyerang jabon ini merupakan suatu kegiatan untuk memperoleh informasi terbaru mengenai jenis hama yang menyerang tegakan jabon. Data yang diperoleh dapat dijadikan data base pengendalian hama pada tegakan jabon. Jenis-jenis hama mayor yang menyerang jabon diantaranya adalah Cosmoleptrus sumatranus, Arthroschista hilaralis, Zeuzera sp., Coptotermes sp., dan Daphnis hypothous, sedangkan hama minor yang menyerang jabon, yaitu Dysdercus cingulatus, Melanura pterolophia, Hypomeces squamossus, Lawana sp., dan Cicadulina sp. Beberapa serangga predator yang ditemukan antara lain adalah Evagoras surdidulus, Insyndrus sp., dan semut rangrang, sedangkan serangga lain yang berpotensi sebagai predator adalah Sycanus sp.

Kata kunci: hama, predator, jabon, inventarisasi
I. PENDAHULUAN

Selama ini, perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) pulp and paper lebih banyak menggunakan spesies Acacia dan Eucalyptus untuk memenuhi kebutuhan pasokannya. Pemanfaatan kedua spesies ini bahkan semakin intensif. Hal ini dikarenakan kedua jenis tanaman ini merupakan spesies yang termasuk fast growing dan tidak memerlukan persyaratan hidup yang rumit. Namun, pemanfaatan yang terus menerus akan menimbulkan masalah baru yaitu munculnya hama yang dapat menurunkan tegakan (standing stock) per hektarnya yang penurunannya cenderung meningkat setiap rotasi. Bahkan laporan dari PT RAPP mengatakan bahwa tegakan Acacia dan Eucalyptus berkecenderungan mengalami peningkatan serangan hama setiap kali dilakukan penanaman baru (rotasi berikutnya). Bahkan Nair (2001) menyatakan bahwa serangan rayap Coptotermes curvighatus dapat menurunkan tegakan Acacia sebesar 10%-50% di Malaysia.
Saat ini beberapa perusahaan HTI mulai memikirkan spesies alternatif untuk menggantikan Acacia dan Eucalyptus. Jabon (Anthocephalus cadamba) merupakan salah satu tanaman alternatif pulp and paper karena memenuhi persyaratan yang diharuskan (Lemmens, 1993). Salah satunya adalah panjang serat 1,561 µm, diameter serat 23,95 µm, dan tebal dinding serat 2,78 µm (Aprianis, 2007).
Sebagai suatu ekosistem yang homogen, kawasan hutan tanaman rentan terhadap serangan hama. Populasi tanaman hutan yang homogen akan mudah diserang dan berpotensi terjadi blooming hama. Hal ini dapat terjadi karena sumber makanan bagi organisme pengganggu tanaman tersebut melimpah sedangkan organisme predatornya kurang tersedia.
Inventarisasi hama dan predatornya jabon merupakan kegiatan penting sebelum tindakan terhadap serangan hama diambil. Langkah ini menjadi penting karena jika terjadi kesalahan dalam mengidentifikasi jenis hama akan dapat menimbulkan permasalahan baru, seperti munculnya serangan hama baru sebagai akibat dari kesalahan dalam pemilihan tindakan pengendalian. Selain itu, pengendalian secara kimia selain dapat membunuh hama, juga dapat membunuh serangga predator itu sendiri sehingga dapat menyebabkan outbreaks yang lebih besar lagi. Manfaat yang lain adalah dapat mengetahui jenis predator yang dapat digunakan sebagai agen pengendali serangan hama dan memanfaatkan jasa serangga tersebut pada masa akan datang.
Oleh sebab itu kegiatan inventarisasi hama dan predatornya pada spesies alternatif ini merupakan suatu kegiatan penyusunan data base terhadap berbagai jenis hama dan predatornya pada tanaman jabon. Dengan demikian, diharapkan ketika perusahaan HTI pulp and paper akan beralih menggunakan spesies ini, maka paket informasi mengenai jenis hama dan teknologi pengendaliannya telah tersedia. Kajian ini bertujuan untuk mempelajari keberadaan jenis hama dan predatornya pada tanaman jabon (Anthocephalus cadamba) di 3 lokasi, yaitu HTI PT RAPP sektor Baserah dan Pelalawan, Hutan Rakyat (HR) di Pantai Cermin kabupaten Kampar, dan persemaian Balai Penelitian Hutan Penghasil Serat (BPHPS) Kuok, Riau.

II. HAMA MAYOR PADA TEGAKAN JABON
Beberapa hama yang dimasukkan ke dalam kelompok hama mayor didasarkan atas pengamatan di lapangan dan sejarah (history) dari hama itu sendiri berdasarkan referensi yang diperoleh. Beberapa hama mayor yang ditemukan menyerang tanaman Jabon (Anthocephalus cadamba) ditampilkan pada Tabel 1.

Tabel (Table) 1. Berbagai jenis hama mayor yang menyerang Anthocephalus cadamba (Major pests of Anthocephalus cadamba).
No Hama mayor (Major pest) Lokasi ditemukan (Location that pest founded)
1. Cosmoleptrus sumatranus (hemiptera). HTI Baserah dan Pelalawan, HTR/HR, dan BPHPS (HTI Baserah and Pelalawan sector, HTR/HR, and BPHPS).
2. Arthroschista hilaralis (lepidoptera). HTI Baserah dan Pelalawan, HTR/HR, dan BPHPS (HTI Baserah and Pelalawan sector, HTR/HR, and BPHPS).
3. Zeuzera sp. (lepidoptera). HTR/HR.
4. Coptotermes sp. (isoptera). HTI Pelalawan (HTI Pelalawan sector).
5. Daphnis hypothous (lepidoptera). HTI Baserah (HTI Baserah sector).
Pada Tabel 1, terlihat bahwa Cosmoleptrus sumatranus, Arthroschista hilaralis, Zeuzera sp., Coptotermes sp., dan Daphnis hypothous dikelompokkan dalam hama mayor karena kemampuan merusak yang tinggi. Berdasarkan pengamatan di lapangan, A. hilaralis memiliki rata-rata tingkat merusak pada lokasi HTI sektor Baserah sebesar 92,88% (tabel 2), sedangkan Daphnis hypothous pernah menyebabkan kerusakan hebat pada kebun pangkas milik BPHPS Kuok. Coptotermes sp. dimasukkan ke dalam kelompok hama mayor karena berdasarkan laporan terdahulu dinyatakan bahwa serangan rayap Coptotermes sp. banyak terjadi pada tegakan Acacia crassicarpa pada lahan gambut sedangkan Zeuzera sp. merupakan hama yang umum menyerang tanaman kopi dan dilaporkan juga oleh PT Arara Abadi mulai menyerang tegakan Eucalyptus.

Tabel (Table) 2. Rata-rata tingkat kerusakan daun oleh serangan A. hilaralis (Average of Foliage Damage level caused by A. hilaralis).
No Plot (Plot no) HTI sektor Baserah (Baserah sector) (%) HTI sector Pelalawan (Pelalawan sector) (%) HR (Community forest) (%) BPHPS

Rataan (average) 92,88 40,50 55,67 69,00

Cosmoleptrus sumatranus (gambar 1) merupakan hama yang bersifat polyphagus. Nympha dan serangga dewasa menyerang tanaman pada bagian pucuk dan daun muda. Tingkat kerusakan oleh tanaman tergantung pada tingkat perkembangan dan pertumbuhan tanaman ketika diserang. Daun muda yang diserang hama ini akan layu setelah dihisap cairannya. Setelah beberapa lama, daun tersebut akan kering dan mati. Kematian pucuk ini akan mengakibatkan munculnya “trubusan”, sehingga akan muncul 2-3 cabang baru. Kemunculan cabang-cabang baru ini dapat menyebabkan tegakkan kurang dapat tumbuh baik seperti yang disyaratkan. Hama ini aktif menyerang pada pagi dan sore hari. Hama ini terdapat pada seluruh area penelitian (HTI, HR, dan BPHPS) pada tingkat lapangan dan tidak dijumpai pada persemaian.
Cosmoleptrus sumatranus memiliki bentuk tubuh menyerupai perisai. Serangga ini berwarna kecoklatan dengan panjang tubuh dewasanya sekitar 14 mm sampai 19 mm. Pada bagian dorsal tubuh terdapat semacam garis yang berbentuk panah berwarna hitam. Anggota tubuhnya tampak seperti ranting tua. Anggota tubuhnya terdiri atas 3 segmen. Serangga ini memiliki 1 pasang antena dan bagian rostrum yang terdiri atas 4 bagian. Leaf footed bugs ini memiliki bentuk tubuh yang relatif bersifat datar (flattened).

Gambar (Figure) 1. C. sumatranus dewasa Gambar (Figure) 2. A. hilaralis dewasa
(Adult of Cosmoleptrus sumatranus). (Adult of Arthroschista hilaralis).

Arthroschista hilaralis (gambar 2) merupakan hama defoliator yang umumnya merusak tanaman jabon dengan memakan daun. Fase yang merusak adalah ketika hama ini mencapai tingkat larva. Pada instar pertama dan kedua, ulat hanya memakan jaringan lunak (epidermis) daun dengan dilapisi oleh semacam silky web. Serangan hama ini dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan jika hama ini menyerang tanaman pada tingkat persemaian maka dapat mengakibatkan kematian karena tanaman tersebut kehilangan daun. Mereka memakan daun yang masih muda pada waktu pagi dan siang hari, sedangkan fase dewasanya aktif pada malam hari. Hama ini dijumpai di seluruh area penelitian (HTI, HR, dan BPHPS).
Ngengat Arthroschista hilaralis pada fase dewasa memiliki warna hijau kebiruan dengan panjang tubuh mencapai 34 mm. Larva memiliki warna hijau bening dengan warna coklat hitam pada bagian kepala dan memiliki panjang mencapai 25 mm. Sedangkan Zeuzera sp. pada fase larva memiliki panjang sekitar 30-40 mm dengan sedikit bulu (setae). Larva hama ini berwarna merah kecoklatan dan memiliki cincin segmen berwarna kuning. Pada fase dewasa, ngengat hama ini berwarna putih dengan titik-titik berwarna hitam pada sayapnya.

Gambar (Figure) 3. Larva Zeuzera sp. Gambar (figure) 4. Larva D. hypothous
(Larvae of Zeuzera sp.) (Larvae of Daphnis hypothous)).

Zeuzera sp. (gambar 3) merupakan hama yang dapat menyebabkan kerusakan cabang. Hama ini memakan jaringan tumbuhan berupa xylem dan pholem. Kerusakan jaringan ini akan berdampak pada kematian cabang. Ulat ini meninggalkan cabang yang telah diserangnya dan berpindah ke cabang lainnya dengan mengebor sisi ventral cabang yang baru. Larva hama ini aktif pada siang hari, sedangkan dewasanya aktif pada malam hari. Hama ini hanya ditemukan pada area HTR/HR saja dan tidak ditemukan di lokasi penelitian yang lain. Diduga hama ini berasal dari tanaman karet dari perkebunan di sekitar area HTR/HR dengan memanfaatkan angin.
Coptotermes sp. (gambar 5) merupakan hama penting pada HTI di lahan gambut. Hama ini menyerang tanaman Jabon dimulai dari bagian tunggak akar, lalu membentuk terowongan dari pasir di sepanjang batang. Menurut Kalshoven (1981), rayap ini akan membentuk terowongan yang terbuat dari bahan organik yang diameternya mencapai 6 mm dan panjangnya dapat mencapai 90 m. Pada fase awal tanaman yang terserang hama ini terlihat seperti tanaman sehat, tetapi jika dilihat secara lebih teliti pada tunggak akarnya terlihat tidak solid lagi akibat dari aktivitas rayap ini.
Coptotermes sp. merupakan hama yang morfologinya menyerupai semut. Ukuran rayap ini dapat mencapai 6 mm terutama rayap prajurit. Menurut Kalshoven (1981), suatu koloni rayap Coptotermes sekitar 12% merupakan rayap prajurit dan sisanya merupakan rayap pekerja. Morfologi rayap pekerja lebih kecil jika dibandingkan dengan rayap prajurit. Pada rayap prajurit memiliki rahang yang berukuran relatif besar. Hama ini memiliki warna orange muda sampai keputihan. Rayap prajurit ini akan mengeluarkan semacam cairan putih jika menggigit.
Hama ini menyerang Jabon yang berumur lebih dari 1 tahun pada tingkat lapangan. Hama ini umum ditemukan pada tanah gambut yang sebelumnya pernah ditanami Acacia crassicarpa dan tidak terdapat pada tanaman Jabon di lahan mineral (HTI, HR, dan BPHPS Kuok). Dilaporkan bahwa Coptotermes sp. memiliki preferensi yang tinggi terhadap tanah yang mengandung bahan organik yang tinggi (Anonim, 2009). Pertumbuhan populasi tertinggi berturut-turut terdapat pada tanah gambut, serasah daun, serbuk gergaji, sedangkan pada tanah mineral dan pasir pertumbuhan populasinya lebih rendah.

Gambar (Figure) 5. Coptotermes sp.

Daphnis hypothous termasuk hama defoliator yang dapat menyebabkan kerusakan yang besar pada tanaman Jabon, karena akan memakan daun Jabon terutama daun muda. Menurut Kalshoven (1981), hama ini banyak menyerang tanaman dari famili rubiaceae, contohnya adalah Gambir, Guettarda, dan Ixora. Kerusakan pada daun ini dapat berakibat pada pada efektivitas fotosintesa oleh tanaman. Jika serangan hama ini terjadi dalam jumlah yang besar dapat berakibat pada kematian tanaman. Ciri-ciri keberadaannya dapat dilihat dari kotorannya yang berwarna hitam kecoklatan dan berbentuk seperti pelet. Larva hama ini aktif pada siang hari sedangkan fase dewasanya aktif pada malam hari. Hama ini ditemukan pada areal HTI Baserah yang memiliki tipe tanah mineral dan bahkan pernah menyerang areal kebun perbanyakan vegetatif BPHPS Kuok dan menyebabkan kerusakan yang besar.
Daphnis hypothous pada fase larva berwarna hijau dan memiliki tanduk yang unik dan berwarna coklat pada bagian posterior tubuhnya. Larva ini memiliki ukuran panjang sekitar 50-60 mm dengan ukuran maksimal mencapai 105 mm. Tubuh defoliator ini bersegmen dan tidak berbulu serta memiliki 5 pasang kaki semu pada bagian ventral tubuhnya dan 3 pasang kaki kecil pada bagian thorak (Pracaya, 2008). Sepanjang tubuhnya terdapat garis putih kekuningan yang memanjang dari bagian anterior ke posterior pada bagian dorsalnya. Pada fase pupa, serangga ini berwarna coklat gelap. Ukuran pupa ini dapat mencapai 60 mm. Pada fase dewasa, ngengat ini memiliki bentangan sayap mencapai 120 mm. Secara umum, ngengat ini berwarna coklat kehitaman dengan warna hijau gelap pada bagian abdomen.

III. HAMA MINOR PADA TEGAKAN JABON
Pada tabel 3 dapat dilihat berbagai jenis hama minor yang menyerang tegakan jabon. Hama-hama tersebut dikelompokan ke dalam hama minor karena persentase serangannya kurang dari 1% dan tidak menunjukkan tingkat kerusakan sebesar yang dilakukan oleh hama mayor. Bahkan sebagian merupakan hama yang memiliki kisaran inang yang luas (polyphagus). Contohnya adalah Lawana sp. dan Cicadulina sp.
Beberapa hama minor yang berpotensi menyerang adalah Melanura pterolophia. Hama ini merupakan kumbang yang bertipe stem borer. Hama ini merusak batang utama dengan cara mengebornya. Hama lain yang bertipe penghisap cairan tumbuhan baik pada pucuk tanaman dan daun muda adalah Dysdercus cingulatus, Lawana sp. dan Cicadulina sp. Serangan larva Lawana sp. menyerupai kutu putih namun berukuran lebih besar, daun yang terserang tampak keputihan. Sedangkan Hypomeces squamossus, serangan yang dilakukan adalah dengan memakan jaringan tumbuhan terutama jaringan yang muda.

Tabel (Table) 3. Berbagai jenis hama minor yang menyerang Anthocephalus cadamba (Minor pests of Anthocephalus cadamba).

No Hama minor (Minor pest) Lokasi ditemukan (Location that pest founded)
1. Melanura pterolophia (coleoptera) HTI Baserah (HTI Baserah sector)
2. Hypomeces squamossus (coleoptera) HTI Baserah (HTI Baserah sector)
3. Lawana sp. (homoptera) HTI Baserah dan HR (HTI Baserah sector and HR)
4. Cicadulina sp. (homoptera) HR
5. Dysdercus cingulatus (hemiptera) HTI Baserah, HR, dan BPHPS (HTI Baserah and Pelalawan sector, HR, and BPHPS)

Melanura pterolophia merupakan kumbang yang memiliki ukuran mencapai 15 mm dan berwarna abu-abu. Pada bagian anteriornya, serangga ini memiliki sepasang antena yang bentangannya mencapai 16 mm. Sedangkan Hypomeces squamossus merupakan kumbang yang berukuran panjang mencapai 15 mm dan berwarna abu-abu sampai keputihan. Berbeda dengan Melanura pterolophia serangga ini tidak memiliki antena.
Dysdercus cingulatus merupakan serangga yang berukuran panjang mencapai 15 mm. Secara umum serangga ini berwarna merah dengan 2 noda hitam pada bagian sayapnya. Pada bagian kepala, terdapat garis hitam dan putih. Menurut
Pracaya (2008), hama ini biasa hidup secara berkelompok.
Lawana sp. pada fase dewasa berukuran panjang mencapai 20 mm dan berwarna putih kekuningan. Pada fase larva, serangga hama ini berwarna putih dan apabila sedang istirahat kedua sayapnya akan tegak sehingga akan tampak seperti ngengat (moth). Ukuran larva ini bervariasi tergantung pada fase larvanya (umumnya 5-10 mm). Pada saat larva, hama ini tampak seperti kutu putih dengan lapisan lilin yang melindunginya.
Cicadulina sp. termasuk serangga yang berukuran kecil (2 mm). Hama ini memiliki mobilitas yang tinggi dengan cara melompat dan oleh sebab itu serangga ini disebut juga sebagai leaf hopper. Serangan hama ini selain dengan menghisap cairan tumbuhan juga dapat menularkan berbagai macam penyakit virus (Pracaya, 2008).

IV. SERANGGA PREDATOR PADA TEGAKAN JABON

Perusahaan HTI pulp and paper menyaratkan spesies yang akan dijadikan kebun kayu salah satunya harus memiliki kemampuan untuk tumbuh cepat (fast growing). Kecepatan pertumbuhan suatu tanaman dipengaruhi oleh banyak hal, salah satunya adalah laju fotosintesa. Daun sebagai tempat fotosintesa memiliki peran yang penting dalam pertumbuhan dan apabila terganggu akan dapat menyebabkan hambatan dalam pertumbuhan.
Berdasarkan pengamatan A. hilaralis merupakan jenis serangga hama yang memiliki kemampuan merusak daun tertinggi pada tanaman jabon. Berdasarkan tabel 2, diperoleh informasi mengenai rata-rata tingkat kerusakan daun yang diakibatkannya mencapai 92,88%. Hal ini akan berdampak pada pertumbuhan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas tegakan.
Penanganan hama yang efisien, efektif, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan merupakan suatu kebutuhan yang harus dilakukan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan jasa serangga parasitoid. Pemanfaatan serangga predator tidak memerlukan biaya yang mahal. Ada beberapa serangga yang dapat dijadikan sebagai predator A. hilaralis, diantaranya adalah Insyndrus sp., Evagoras surdidulus, dan Sycanus sp. Ketiga serangga ini termasuk ke dalam famili reduviidae yang dikenal luas sebagai kelompok serangga predator.
Evagoras surdidulus (gambar 6) dan Insyndrus sp. (gambar 7) merupakan dua jenis serangga yang ditemukan pada lokasi penemuan hama di HR Pantai cermin, sedangkan Sycanus sp. merupakan jenis serangga predator yang telah banyak digunakan sebagai salah satu pengendali terhadap serangan hama. Sebagai contoh adalah pemanfaatan jasa Sycanus sp. untuk mengurangi populasi ulat grayak (Spodoptera sp.) pada tegakan Acacia crassicarpa di PT RAPP, Riau.
Mekanisme pengendalian oleh ketiga serangga predator ini adalah dengan memanfaatkan cairan tubuh mangsanya. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa Sycanus sp. memiliki jarum penghisap yang ada pada ujung mulutnya. Jarum ini digunakan untuk menusuk dan menghisap cairan tubuh mangsanya. Serangga predator ini memiliki preferensi terhadap hama yang masih berada dalam fase ulat dibandingkan fase dewasanya. Hal ini disebabkan pada fase ulat, hama akan mudah ditusuk karena lapisan kitin pada tubuh hama pada fase ulat masih sedikit dan belum menebal dan kemudian dihisap cairannya. Selain itu pada fase ulat, hama akan mudah diserang karena tingkat mobilitasnya masih rendah.

Gambar (Figure) 6. Evagoras surdidulus Gambar (Figure) 7. Insyndrus sp.

Contoh serangga predator lain yang ditemukan adalah dari kelompok semut. Ada beberapa jenis spesies yang ditemukan sedang mempredasi beberapa hama dari kelompok lepidoptera. Contohnya adalah semut rangrang (Oecophylla saragillina). Predator jenis ini berumah pada tanaman jabon itu sendiri dengan cara melipat daun sedemikian rupa sehingga bagian dalamnya bebas dari terpaan air hujan. Berbeda dengan beberapa predator di atas, semut rangrang menyerang mangsanya secara berkelompok.

V. KESIMPULAN
1. Hama mayor yang menyerang tanaman jabon adalah Cosmoleptrus sumatranus, Arthroschista hilaralis, Zeuzera sp., Coptotermes sp., dan Daphnis hypothous.
2. Hama minor yang menyerang jabon adalah Melanura pterolophia, Dysdercus cingulatus, Hypomeces squamossus, Lawana sp., dan Cicadulina sp.
3. Serangga predator yang ditemukan pada jabon adalah Evagoras surdidulus, Insyndrus sp., dan semut rangrang (Oecophylla saragillina), sedangkan serangga lain yang berpotensi sebagai predator adalah Sycanus sp.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Kajian Aspek Biologi Coptotermes curvignathus Holmgren Sebagai Dasar Pengendalian Rayap Pada Pertanaman Kelapa Sawit. http://library.usu.ac.id. Diakses 13 Oktober 2009

Aprianis, Y. 2007. Eksplorasi Jenis-Jenis Kayu yang Berpotensi sebagai Tanaman pulp Alternatif (Laporan Hasil Penelitian). Loka Litbang Kuok, Kuok

Kalshoven, I.G.E. 1981. Pests of Crops in Indonesia. PT Ichtiar Baru, Jakarta

Lemmens RHMJ. 1993. Plant Resources of South-East Asia. No. 5(1) Soerianegara I (edt): Timber trees: major commercial timbers. Backhuys Publishers, Leiden

Nair, K.S.S. 2001. Pest Outbreaks in Tropical Forest Plantation: Is there a greater risk for exotic tree species. CIFOR, Bogor

Pracaya, 2008. Hama dan Penyakit Tanaman: edisi revisi. Penerbit Swadaya, Jakarta

Yunafsi. 2007. Permasalahan Hama, Penyakit, dan Gulma dalam Pembangunan Hutan Tanaman Industri dan Usaha Pembangunannya. http://library.usu.ac.id. Diakses 13 Oktober 2009

oleh:
Avry Pribadi
Calon peneliti pada BPHPS Kuok

I. Pendahuluan
Permintaan hasil hutan berupa kayu yang semakin meningkat di dunia merupakan peluang yang baik bagi pemerintah Indonesia untuk menambah devisa. Salah satu upaya pembangunan hutan di Indonesia adalah dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1980 tentang Hak Penguasaan Hutan Tanaman Industri. Hutan Tanaman Industri ini bertujuan untuk meningkatkan produksi industri kehutanan dan berkaitan juga dengan usaha pemerintah untuk merehabilitasi lahan yang rusak, sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga.
Pulp dan paper merupakan salah satu produk hasil hutan kayu yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Peluang tersebut kemudian diambil oleh beberapa pihak swasta dengan dibantu oleh pemerintah Indonesia untuk membangun kebun hutan tanamannya. Dalam perjalanannya usaha pembangunan hutan tanaman ini mengalami beberapa masalah, diantaranya adalah kebutuhan bibit yang tidak sesuai dengan jumlah lahan yang harus ditanam.
Tanaman hutan yang paling banyak ditanam oleh beberapa perusahaan HTI adalah Acacia crassicarpa. Tanaman kehutanan ini memiliki beberapa keunggulan, yaitu fast growing dan mampu hidup pada lahan marginal. Berdasarkan data potensi yang dimiliki PT Arara Abadi tahun 2008 pada distrik Berbari, Acacia crasicarpa yang ditanam pada peat soil memiliki potensi sampai 150 m3/ha pada umur 4 tahun.
Potensi yang begitu tinggi tersebut harus didukung dengan pembangunan persemaian yang kuat. Persemaian Acacia crassicarpa dilakukan dengan 2 cara, yaitu menggunakan bibit yang berasal dari kebun perbanyakan vegetatif (vegetatif) dan bibit yang berasal dari biji. Masing –masing jenis bibit tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan. Bibit yang berasal dari kebun perbanyakan vegetatif, jika berasal dari tanaman induk yang memiliki potensi genetik yang unggul maka akan menghasilkan produksi yang optimal, akan tetapi kelemahannya adalah jika terserang hama dan penyakit tanaman maka seluruh bibit tersebut akan mudah terserang karena rendahnya variasi genetik. Sedangkan benih yang berasal dari biji meskipun variasi genetiknya besar, akan tetapi memiliki tingkat ketahanan yang lebih kuat jika dibandingkan dengan bibit yang berasal dari kebun perbanyakan vegetatif. Kelebihan lain yang dimiliki oleh bibit yang berasal dari kebun perbanyakan vegetatif adalah lebih efisien dalam segi biaya dibandingkan dengan bibit yang berasal dari biji.
Serangan hama yang menyerang kebun perbanyakan vegetatif Acacia crassicarpa terutama ulat grayak (Spodoptera sp.) jika melebihi dari ambang batas dapat menyebabkan gejala gundul pada daun. Kerusakan yang ditimbulkan ini dapat menghambat pertumbuhan tanaman perbanyakan vegetatif yang kemudian akan menurunkan produktivitas perbanyakan vegetatifan. Penanganan secara kimia dapat dilakukan jika hanya terjadi outbreaks saja dan tidak dapat dilakukan secara continue karena tidak ekonomis. Oleh sebab itu diperlukan suatu usaha pengendalian hama yang menyerang kebun perbanyakan vegetatif secara continue dan low cost.
Penanganan serangan hama yang berkelanjutan pada kebun perbanyakan vegetatif tidak dapat dilakukan secara parsial dan terpisah. Ada beberapa komponen yang harus mendukung satu sama lain dalam usaha penanganan serangan hama, diantaranya adalah pengendalian secara kimia, biologi, dan mekanis, sanitasi lingkungan persemaian, dan perilaku hygenes.
Salah satu komponen dalam penanganan serangan hama adalah pengendalian secara biologi dengan menggunakan organisme parasitoid. Organisme parasitoid adalah serangga yang sebelum tahap dewasa berkembang pada atau di dalam tubuh inang (biasanya serangga juga). Parasitoid mempunyai karakteristik pemangsa karena membunuh inangnya dan seperti parasit karena hanya membutuhkan satu inang untuk tumbuh, berkembang, dan bermetamorfosis (Sofa, 2008).
Organisme parasitoid ini memerlukan suatu tanaman sebagai habitatnya. Hal ini disebabkan karena pada fase dewasa, organisme parasitoid memerlukan nektar sebagai makanannya berbeda sewaktu dia masih dalam tahap larva. Salah satunya adalah bunga Pukul Delapan (Turnera sp.). Tanaman ini memliki potensi yang cukup besar sebagai habitat bagi organisme parasitoid karena memiliki sumber makanan yang cukup bagi mereka. Oleh karena itu makalah ini disusun untuk mengetahui peran serangga parasitoid dan bunga Pukul Delapan dalam penanganan serangan hama pada kebun perbanyakan vegetatif Acacia crassicarpa.

II. Biologi dan Peranan Bunga Pukul Delapan (Tunera sp.) sebagai Habitat Parasitoid
Bunga pukul delapan memiliki beberapa nama daerah, yaitu lidah kucing (Jawa). Sedangkan orang Amerika sering menyebutnya sebagai Indian holly, sage rose, holly rose.
Bunga Pukul Delapan (Turnera sp.) memiliki potensi sebagai habitat bagi organisme parasitoid dewasa karena memiliki nektar sebagai sumber makanan mereka. Ketika mereka akan bertelur, mereka akan mulai mencari tubuh serangga untuk meletakkan telur. Telur tersebut ketika menetas akan berubah menjadi larva yang kemudian akan memakan tubuh serangga dari dalam. Setelah menjadi pupa dan kemudian berubah menjadi dewasa, organisme parasitoid tersebut akan kembali ke bunga Pukul Delapan untuk mencari nektar. Selain berfungsi sebagai habitat organisme parasitoid, tanaman ini juga mampu mengundang organisme parasitoid yang berasal dari luar habitatnya untuk datang dan menjadikan tanaman tersebut sebagai habitatnya.
Berikut adalah klasifikasi bunga pukul delapan (Dalimartha, 200delapan):
Kingdom : Plantae
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Violales
Famili : Turneraceae
Genus : Turnera
Spesies : Turnera sp. J.E.Smith
Tanaman bunga Pukul Delapan ini akan mendapat keuntungan dengan keberadaan serangga-serangga parasitoid ini, diantaranya adalah membantu penyebaran tanaman ini dengan penyerbukan dan menjadikan tanaman ini dijauhi oleh serangga hama karena keberadaan serangga parasitoid yang ada pada tanaman tersebut.

Gambar 1.1 Turnera sp. (bunga putih)

Gambar 1.2 Turnera sp. (bunga kuning)

III. Serangga yang Berpotensi menjadi Parasitoid
Kebanyakan parasitoid merupakan anggota dari ordo hymenoptera dan diptera. Sampai saat ini terdapat sekitar 50.000 spesies dari ordo hymenoptera dan 15.000 spesies dari ordo diptera yang telah diidentifikasi sebagai serangga parasitoid sedangkan diluar kedua ordo tersebut terdapat sekitar 3.000 spesies. Dari seluruh spesies serangga di dunia, sekitar delapan, 5% diantaranya adalah serangga parasitoid. Berbeda dengan jenis serangga pada umumnya, serangga parasitoid memiliki tubuh yang tidak terlalu besar dan biasanya hanya berukuran beberapa millimeter. Serangga-serangga parasitoid memiliki struktur khusus pada daerah abdomennya yang disebut ovipositor. Ovipositor merupakan suatu alat untuk meletakkan telur dari serangga parasitoid ke dalam tubuh inangnya (BBC, 2008).
Beberapa karakteristik yang dimiliki oleh serangga parasitoid adalah:
a. Parasitoid tersebut memiliki struktur yang khusus terhadap inangnya
b. Parasitoid memiliki ukuran yang lebih kecil disbanding inangnya
c. Hanya parasitoid betina yang berusaha menyerang dan mencari inang
d. Telur atau larva sering kali diletakkan pada inang atau dekat inangnya
e. Pada fase immature, serangga parasitoid mampu membunuh inangnya
f. Pada fase immature (larva), serangga parasitoid hanya berada di dalam inang dan pada fase dewasa serangga parasitoid bersifat free living dan mobile (Weeden, et al., 2009)
Sofa (2008) menyatakan bahwa pada ordo diptera hanya suku Tachinidae yang paling penting di dalam pengendalian alami dan hayati hama-hama kehutanan. Kelompok terbesar parasitoid, yaitu bangsa Hymenoptera merupakan kelompok yang sangat penting. Superfamily Ichneumonoidea yang terdiri dari Braconidae dan Ichneumonidae sangat penting dalam pengendalian alami dan hayati. Sedangkan dari superfamily Chalcidoidea yang dianggap sebagai kelompok parasitoid paling penting dalam pengendalian alami dan hayati adalah Mymaridae, Trichogrammatidae, Eulophidae, Pteromalidae, Encyrtidae, dan Aphelinidae.
Ada beberapa tipe serangga parasitoid yang menyerang serangga hama, yaitu:
a. Serangga parasitoid yang menyerang telur
Jenis ini akan menyerang serangga hama pada fase telur dengan cara meng-oviposisi-kan telurnya pada telur serangga hama. Kemudian setelah menetas, larva parasitoid ini akan memakan telur dari dalam. Telur yang terinfeksi larva parasitoid ini tidak dapat berkembang dan kemudian berwarna hitam lalu mati. Salah satu contoh dari serangga jenis ini adalah dari ordo hymenoptera family trichogrammatidae genus uscana (FAO, 2009).
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa serangga parasitoid telur memberikan tingkat mortalitas yang tinggi dalam usaha pengendalian serangga hama (kumbang) coleoptera. Penelitian terhadap serangga ini menunjukkan bahwa dengan me-rearing organisme ini dapat digunakan sebagai agen biokontrol.
b. Serangga parasitoid yang menyerang larva dan pupa
Jenis ini menyerang serangga hama pada fase larva dan pupa dengan cara mengoviposisikan telurnya pada tubuh ulat. Setelah menetas, larva parasitoid akan memakan tubuh ulat dan pupa dari dalam dan kemudian akan mengalami kematian.
Serangga yang bertipe seperti ini berasal dari ordo hymenoptera genus Bruchobius. Kelemahannya adalah serangga parasitoid ini hanya memberikan pengaruh kecil terhadap usaha pengendalian serangan hama pada tanaman Acacia. Secara rata-rata setiap 2 serangga parasitoid harus mampu menginfeksi 20 larva kumbang (coleoptera) (FAO, 2000).
Berikut adalah beberapa contoh serangga parasitoid menurut IPM (2008):

1. Apanteles sp.
Ciri-ciri serangga ini adalah:
• Serangga dewasa memiliki tubuh berwarna hitam dengan beberapa warna kuning pada bagian abdomen dan kakinya.
• Memilki panjang tubuh sekitar 2,0 s.d 2,5 mm.
• Serangga betina memiliki tubuh lebih pendek dan ovipositor yang berguna untuk menginjeksi telur ke tubuh ulat hama.
• Telur berbentuk elongate dan transparan, berukuran panjang 0,3 mm.
• Telur akan menetas setelah 3 hari setelah oviposisi.

Gambar 1.3 Apanteles sp. (IPM, 2009)

2. Brachmeria sp.
Ciri-ciri serangga ini adalah:
• Serangga ini memiliki kisaran inang yang luas.
• Serangga ini berwarna hitam kecoklatan dengan tanda warna kuning, merah atau putih.
• Bagian kepala dan thorax tersklerotisasi.
• Bagian antena memiliki 13 segmen dengan 1 atau 2 ring segmen.
• Serangga ini mengoviposisikan telur-telurnya secara horizontal.

Gambar 1.4 Brachmeria sp (IPM, 2009)

3. Bracon spp.
Ciri-ciri serangga ini adalah:
• Serangga ini berukuran kecil (0,5 inchi) dan berwarna hitam dengan 2 pasang sayap transparan.
• Memiliki kisaran inang yang luas.

Gambar 1.5 Bracon spp (IPM, 2009)

4. Campoletis chloridae
Ciri-ciri serangga ini adalah:
• Serangga dewasa berwarna hitam dan berbentuk silinder.
• Serangga ini memiliki panjang 0,25 inchi.
• Fase pupa ini berwarna putih dan panjang 0,25 inchi.
• Antena berukuran panjang dengan 16 segmen.
• Serangga ini merupakan parasitoid dari kelompok hama holometabolous.

Gambar 1.6 Campoletis chloridae (IPM, 2009)
5. Diaretiella rapae
Ciri-ciri serangga ini adalah:
• Serangga ini berukuran kecil dan sukar dilihat dengan mata telanjang.
• Serangga ini merupakan parasitoid dari kelompok kutu (aphid).
.

Gambar 1.7 Diaretiella rapae (IPM, 2009)

6. Eretmocerus mundus
Ciri-ciri serangga ini adalah:
• Serangga ini berwarna kuning lemon.
• Serangga ini meng-oviposisi-kan telurnya pada larva kutu putih dan setelah 3 hari akan berubah warna menjadi kecoklatan.
• Larva serangga ini tidak akan berkembang sebelum larva inangnya instar 2.
• Life cycle membutuhkan waktu 17 sampai 20 hari.

Gambar 1.8 Eretmocerus mundus (IPM, 2009)
7. Trichogramma sp.
Ciri-ciri serangga ini adalah:
• Serangga ini memiliki ukuran yang relatif kecil.
• Serangga betina meletakkan telurnya pada telur yang baru saja oviposisikan inangnya.
• Setiap serangga betina mampu memparasit 100 telur inangnya
• Serangga ini memiliki daur hidup yang relatif singkat (8-10 hari).
• Serangga ini sudah mulai banyak dikomersialkan.

Gambar 1.9 Trichogramma sp. (ESF, 2009)

IV. Rearing Serangga Parasitoid
Rearing serangga parasitoid merupakan suatu hal yang penting dilakukan untuk menjamin ketersediaannya di alam dan memudahkan penyebaran dan perkembangannya. Setelah dilakukan rearing, serangga parasitoid dapat dilepas pada tanaman yang menjadi habitatnya (contohnya adalah bunga Pukul Delapan). Setelah dilepas, serangga parasiotoid tersebut dapat dibiarkan berkembang sendiri di lapangan.
Secara umum tehnik rearing serangga parasitoid adalah:
1. Perbanyakan dilakukan di dalam tabung kecil
2. Bilamana sudah ada parasitoid yang menetas dari pupa yang terparasitisasi masukkan ke dalam tabung kecil tersebut
3. Pada tabung kecil yang sudah berisi parasitoid, masukan beberapa ekor pupa sehat berumur 1–2 hari.
4. Tutup tabung reaksi dengan kasa yang berpori kecil (bisa juga kain atau kapas)
5. Serangga parasitoid akan menginfeksi pupa selama 2 hari (4delapan jam), sesudah itu pupa yang telah diparasitisasi dikeluarkan dan dipindahkan ke dalam tabung kecil lain
6. Selanjutnya, ke dalam tabung kecil yang berisi parasitoid dimasukkan kembali pupa berumur 1–2 hari
7. Parasitoid dewasa diberi pakan berupa madu yang diencerkan (50% v/v)
8. Setelah persediaan pupa yang terparasitisasi cukup banyak, maka dapat dilakukan pelepasan ke lapangan (hendaknya dilakukan pada pagi dan sore hari).
9. Melakukan monitoring dan evaluasi tingkat keberhasilan pelepasan serangga parasitoid tersebut (Oanh, et al., 2004).

V. Pengembangan Serangga Parasitoid di Kebun Perbanyakan vegetatif Acacia crassicarpa

Kebun perbanyakan vegetatif Acacia crassicarpa yang memiliki potensi genetik yang tinggi tersebut harus didukung dengan penanganan silvikultur yang tepat salah satunya adalah penanganan pest and diseases. Penanganan pest and diseases yang efisien, efektif, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan merupakan suatu kebutuhan yang harus dilakukan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan jasa serangga parasitoid.
Dalam pengembangannya, serangga parasitoid membutuhkan lingkungan yang sesuai. Kebutuhan pakan dan habitat merupakan faktor utama keberhasilan dalam mengembangkan serangga ini. Jenis pakan dari serangga parasitoid dewasa ini adalah nektar. Nektar banyak terdapat pada tanaman bunga-bungaan, salah satunya adalah bunga Pukul delapan.
Pengembangan serangga parasitoid dapat dimulai dengan usaha penanaman bunga pukul delapan di sekitar kebun perbanyakan vegetatif Acacia crassicarpa. Percepatan usaha penanaman bunga pukul delapan dilakukan dengan menggunakan stek batang. Pola penanamannya adalah dengan mengelilingi kebun perbanyakan vegetatif yang telah diberi roof pada bagian atas (gambar 1.10 dan 1.11). Setelah kelihatan rimbun (tinggi ± 50 cm dan mulai berbunga), tanaman tersebut akan mulai mengundang banyak serangga (terutama serangga parasitoid). Bersamaan dengan itu dapat dilakukan pelepasan serangga parasitoid hasil rearing di laboratorium.

Gambar 1.10 Kebun perbanyakan vegetatif A. crassicarpa di PT RAPP.

Gambar 1.11 Penanaman bunga pukul delapan di sekeliling kebun perbanyakan vegetatif A. crassicarpa di PT RAPP.

VI. Penutup
Hal yang perlu diingat dalam penanganan serangan hama adalah tidak bisa hanya bergantung pada satu usaha saja, akan tetapi dibutuhkan beberapa usaha penanganan yang sifatnya komprehensif (misalnya sanitasi lingkungan dan usaha penyemprotan bahan kimia yang dilakukan hanya ketika terjadi outbreaks). Salah satu usaha penanganan serangan hama pada kebun perbanyakan vegetatif Acacia crassicarpa adalah dengan memanfaatkan jasa serangga parasitoid. Pengembangan jasa serangga parasitoid dapat dilakukan dengan usaha penanaman bunga Pukul delapan di sekeliling kebun perbanyakan vegetatif yang berfungsi sebagai sumber pakannya.

Daftar Referensi
Agriculture and Consumer Protection . ______. Parasitoid. Food and Agriculture Organization (FAO). http://www.fao.org/ diakses 29 Mei 2009

BBC. 2008. Parasitoid Insects. http://www.bbc.co.uk. Diakses 1 Juni 2009

Dalimartha, Setiawan. 2008. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia jilid 5. Pustaka Bunda, Jakarta

European Science Foundation (ESF). 2009. Behavioural Ecology of Insect Parasitoids (BEPAR). http://www.esf.org. diakses 1 Juni 2009

IPM. 2009. Natural Enemy Information: Parasitoid. www. jnkvv. nic. In / IPM%20Project / natural_ enemy1 . htm . diakses 5 Juni 2009

Oanh, N. T. T., Truc, N. H., dan Luong, L. C. 2004. Manual for mass-rearing of Asecodes hispanarum, a parasitoid of hispine beetle, Brontispa longissima. http://www.fao.org/documents/show_cdr.asp?url_file=/docrep/007/ad522e/ad522e04.htm. diakses 29 Mei 2009

Sofa, Pakde. 2008. Menggunakan Serangga Pemangsa dan parasitoid sebagai Pengendalian Hama http://massofa.wordpress.com/200delapan/01/31/ menggunakan-serangga-pemangsa-dan-parasitoid-sebagai-pengendalian-hama/. diakses Mei 2009

Weeden, C.R., A. M. Shelton, and M. P. Hoffman.________. Biological Control: A Guide to Natural Enemies in North America. http: //www.nysaes.cornell. Edu/ent/biocontrol/. Diakses 1 Juni 2009

Posted by: pribadiavry | July 30, 2009

HAMA YANG BERPOTENSI MENYERANG TANAMAN Acacia sp.

Oleh:
Avry Pribadi

I. PENDAHULUAN

Permintaan hasil hutan khususnya kayu dan produk turunannya yang semakin meningkat merupakan konsekuensi bertambahnya jumlah penduduk dan pesatnya pembangunan merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Sebagai negara tropis yang sumber devisa keduanya berasal dari hutan, adanya meningkatnya permintaan konsumen tersebut merupakan peluang bagi Indonesia. Pangsa pasar kayu Indonesia di Asia saat ini meliputi India, Cina, Vietnam, Malaysia, Taiwan, Philipina, Jepang Singapura, Korea Selatan, dan Thailand. Sedangkan di Eropa dan Amerika adalah Italia, Irlandia, dan AS.
Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1980 tentang Hak Penguasaan Hutan Tanaman Industri. Hutan Tanaman Industri ini bertujuan untuk meningkatkan produksi industri kehutanan dan berkaitan juga dengan usahan pemerintah untuk merehabilitasi lahan yang rusak, sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga.
Hutan Tanaman Industri (HTI) yang dibangun umumnya digunakan untuk pemasok kebutuhan industri perkayuan, seperti ply wood, kayu gergajian, dan pulp. Produktivitas hutan tanaman dipengaruhi oleh iklim, tanah, fisiografi dan faktor pengelolaan. Kondisi tanah yang berpengaruh langsung terhadap vegetasi adalah komposisi fisik dan kimia tanah, kandungan air, suhu dan aerasi tanah.
Tanaman yang diusahakan pada lahan HTI masih terbatas pada tanaman yang pertumbuhannya cepat (fast growing). Sedikitnya ada 18 jenis tanaman HTI yang dianjurkan oleh Departemen Kehutanan, yaitu Acacia sp., Eucalyptus sp., Paraserienthes falcataria, Ceiba petandra, Cassia siamea, Pinus sp., Peronema canescens, Pterocarpus indicus, Hevea sp., Aleurites molucana, Anthocephalus cadamba, Shorea sp., Dyera costulata, dan kayu energi (Kherudin, 1994).
Diantara 18 jenis tanaman HTI tersebut, Acacia sp.termasuk jenis tanaman HTI yang pertumbuhannya cepat, tidak memerlukan persyaratan tumbuh yang tinggi dan tidak begitu terpengaruh oleh jenis tanahnya (Litbanghut, 2004). Kayunya bernilai ekonomi karena merupakan bahan yang baik untuk industri pulp. Berdasarkan data dari Insect and Pest in Indonesian Forest, luas Hutan Tanaman Industri yang ditanami oleh Acacia sp. mencapai hampir 80 % atau hampir 470 ribu hektar (Nair, 2000).
Faktor yang lain yang mendorong pengembangan jenis ini adalah sifat pertumbuhan yang cepat. Pada lahan yang baik, umur 9 tahun telah mencapai tinggi 23 meter dengan rata-rata kenaikan diameter 2 – 3 meter dengan hasil produksi 415 m3/ha atau rata-rata 46 m3/ha/tahun. Pada areal yang ditumbuhi alang-alang umur 13 tahun mencapai tinggi 25 meter dengan diameter rata-rata 27 cm serta hasil produksi rata-rata 20 m3/ha/tahun. Kayu Acacia sp. termasuk dalam kelas kuat III-IV, berat jenis 0,56 – 0,60 dengan nilai kalori rata-rata antara 4800 – 4900 kcal/kg. Pada umumnya Acacia sp. mencapai tinggi lebih dari 15 meter, kecuali pada tempat yang kurang menguntungkan akan tumbuh lebih kecil antara 7 – 10 meter. Pohon Acacia sp. yang tua biasanya berkayu keras, kasar, beralur longitudinal dan warnanya bervariasi mulai dari coklat gelap sampai terang (Litbanghut, 2004).
Acacium sp. tumbuh secara alami di Maluku dengan jenis Melaleuca leucadendron. Selain itu terdapat pula di pantai Australia bagian utara, Papua bagian selatan (Fak-fak di Aguada dan Tomage Rokas, Kepulauan Aru, Maluku dan Seram bagian barat). Persyaratan tempat tumbuh. Acacia sp. tidak memiliki persyaratan tumbuh yang tinggi, dapat tumbuh pada lahan miskin dan tidak subur. Seperti jenis pionir yang cepat tumbuh dan berdaun lebar, jenis Acacia sp. sangat membutuhkan sinar matahari, apabila mendapatkan naungan akan tumbuh kurang sempurna dengan bentuk tinggi dan kurus (Litbanghut, 2004).
Hutan Tanaman Industri (HTI) merupakan hutan yang terdiri atas tegakan monokultur (satu jenis tanaman saja) atau terdiri atas campuran beberapa jenis. Keanekaragaman yang rendah ini tentu saja akan mengganggu keseimbangan ekosistem yang pada akhirnya dapat terjadi blooming hama dan penyakit pada tanaman.
Selain tersusun atas tegakan yang bersifat monokultur, tanaman HTI juga kebanyakan berusia sama. Hal Ini dapat berdampak pada bermunculannya hama dan penyakit. Hal ini disebabkan oleh ketersediaan makanan maupun inang yang sesuai cukup banyak sehingga hama dan penyakit pada tanaman akan dapat berkembang dengan cepat.
Hama adalah semua jenis organisme multisel (biasanya berasal dari golongan arthopoda, nematoda, dan bahkan mammalia) yang bersifat merugikan bagi tanaman inang, misalnya adalah Pteroma plagiophelps yang menyerang Acacia sp. Sedangkan yang dimaksud dengan penyakit adalah semua jenis mikroorganisme (umumnya dari golongan bakteri dan jamur) yang bersifat merugikan tanaman inang. Misalnya adalah Fusarium oxysporum yang dapat menyebabkan penyakit damping off pada tanaman Benuang Laki (Duabanga moluccana).
Timbulnya hama pada tanaman hutan tanaman dapat menyebabkan kerugian yang dapat diperkirakan dalam bentuk uang dan dalam bentuk yang sukar diukur seperti progam penanaman, penyediaan bahan baku industri kayu dan pemandangan yang tidak menarik. Untuk menghindari kerugian yang lebih besar akibat gangguan hama dan penyakit perlu dilakukan pencegahan dan pengendalian sesegera mungkin. Untuk mendapatkan cara pencegahan dan pengendalian hama dan penyakit yang aman, efektif, dan efisien perlu diketahui terlebih dahulu mengenai jenis-jenis hama pada hutan tanaman.

II. ISI

Hama yang banyak menyerang tanaman hutan diantaranya berasal dari golongan arthopoda dan nematode. Sebenarnya mereka memiliki peranan yang besar dalam menguraikan bahan-bahan tanaman dan binatang dalam rantai makanan ekosistem dan sebagai bahan makanan mahluk hidup lain. Peranannya dalam siklus energi di hutan hujan tropis adalah 4 kali peranan vertebrata. Tetapi sehari-hari kita mengenal kelompok ini hanya dari aspek merugikan kehidupan manusia karena banyak di antaranya menjadi hama perusak dan pemakan tanaman hutan dan menjadi pembawa (vektor) bagi berbagai penyakit tanaman.
A. Insecta (serangga)
Tabel 2.1. Tabel daftar hama yang menyerang tanaman Acacia sp.
No Jenis Hama Nama umum Bagian tanaman yang diserang
1. Xystrocera festiva Penggerek batang Batang
2. Eurema sp. Kupu-kupu kuning Daun
3. Aegus acuminatus Penggerek batang Batang
4. Rhopalosiphum maidis Kutu Daun
5. Valanga nigricornis Belalang Daun dan batang (bibit)
6. Coptotermes curvignathus Rayap Akar
7. • Pteroma plagiophelps
• Amatissa sp.
• Cryptothelea sp. Ulat kantong Daun
8. Heliopeltis sp. kutu Pucuk dan daun
9. Xylosandrus compactus Pengebor batang Batang

1. Xystrocera festiva
Hama ini merupakan jenis hama yang termasuk pengebor batang, khususnya pada batang dari jenis leguminosae. Kerusakan pertama akan muncul ketika bagian dari kulit pohon mengalami nekrosis dan menunjukkan adanya lubang yang berbentuk oval sebagai aktivitas pengeboran dari larva hama ini. Gejala selanjutnya adalah cabang dan batang akan menjadi mati. Jalan masuk hama pada batang akan tampak berwarna hitam dan kering. Daerah penyebaran hama ini adalah India (Assam), Myanmar, Vietnam utara, Laos, Indonesia (Sumatra, Jawa, dan Kalimantan) ((Kalshoven, 1981).
Larva hama ini berwarna kuning kecoklatan dan berukuran 5 cm. Larva ini biasanya hidup secara berkelompok dan memakan kulit kayu, lapisan cambium, xylem, dan berdiam di bawah kulit kayu. Mendekati fase pupa, larva akan melubangi sebuah saluran sekitar 20 cm. Bahkan saluran yang di buat dapat sampai ke pembuluh xylem. Hama ini mulai menyerang tanaman Acacia sp. yang berymur 2 atau 3 tahun (Matsumoto and Irianto, 1994).

Gambar 2.1 Xystrocera festiva
(Sumber: http://www.malaeng.com/blog/index.php?paged=15)

X. festiva betina hanya dapat hidup selama 4 hari. Selama masa hidupnya yang singkat itu, hama ini mampu mendepositkan sekitar 200 telur. Telur yang dihasilkan hama ini berwarna hijau terang dan berbentuk oval (2×1 mm). Ukuran tubuh jantan dewasa 40,2 x 15 mm dan yang betina 29,71 x 7,3 mm (Kalshoven, 1981).
Untuk mengendalikan hama boktor, sesuai dengan tuntutan akan kelestarian lingkungan, diperlukan cara pengendalian yang selain efektif juga ramah lingkungan. Salah satunya adalah dengan menggunakan pestisida alami. Surian (Toona sisnensis Roem) merupakan jenis pohon yang memiliki banyak kegunaan, selain kayunya dipergunakan untuk bahan kontruksi, pertukangan, mebelair dan bahan perkapalan, pohon ini juga memiliki potensi lain karena mengandung senyawa yang dapat digunakan sebagai biopestisida (Hidayat dan Kuvaini, 2005)

2. Eurema sp.
Kupu-kupu ini ditemukan di India, Birma, dan Sri Langka. Sebenarnya hama ini merupakan hama penting yang terdapat pada pohon pelindung (shade tree)pada area perkebunan teh. Pada tahap instar awal, larva akan berada di bagian terluar epidermis daun dan akan memakan daun-daun tersebut ketika tumbuh besar. Hal inilah yang sering terjadi pada tanaman muda sehingga sering kali tanaman tampak gundul karena tidak memiliki daun (Kalshoven,1981).

Gambar 2.2 Euremma sp. (fase dewasa)
(Sumber: http://www.pbase.com/uplepidoptera/family_pieridae)

Kupu-kupu ini aktif selama musim dingin dan awal musim semi. Telurnya sering diletakkan pada posisi terbawah dari daun (lateral daun) dan sering kali diletakkan pada ujung tunas yang masih inaktif secara berkelompok. Telurnya berwarna putih dan diselimuti oleh benang-benang seperti jala. Tiap kelompok telur terdiri dari 28 sampai 137 butir. Masa inkubasi telur adalah 12-14 hari. Setelah menetas, fase berikutnya adalah larva yang akan tumbuh sempurna selama 22-26 hari pada bulan Desember dan 11-14 hari pada bulan Maret. Larva ini memiliki panjang 26-30 mm. Pada fase larva inilah terjadi proses perusakan yang tinggi. Hal ini disebabkan karena aktivitas makan yang tinggi untuk persiapan pada fase pupa. Larva kemudian akan berubah menjadi pupa. Pupa ini memiliki warna hijau olive sampai dengan coklat kehitaman. Setelah fase pupa berlalu maka akan muncul kupu-kupu dewasa (Nayar et al., 1976).
Beberapa organisme yang potensial dijadikan biokontrol untuk mengendalikan populasi Euremma sp. adalah;
1. Euplectrus sp. dan Charops obtusus yang menyerang pada fase larva.
2. Brachymeria megaspila yang menyerang pada fase pupa (Nayar, Ananthakrishnan, and David, 1976).

3. Aegus acuminatus
Organisme ini bersifat destruktif. Hal ini telah dapat dilihat pada fase larva yang telah memiliki kepala dan rahang yang keras. Larva ini sering kali tampak menggulung. Larva ini memiliki habitat di dalam tanah, kayu mati, dan sisa tanaman. Kumbang ini dinamakan stag beetles karena kumbang jantan memiliki capit yang kuat dan keras (Kalshoven, 1981).

Gambar 2.3 Aegus acuminatus
(sumber: http://www.flickr.com/photos/fbmagpie/1721946568)

4. Rhopalosiphum maidis
Tanaman yang menjadi inang utama bagi kutu daun ini sebenarnya adalah jagung. Akan tetapi kutu ini memiliki inang alternative mulai dari tanaman padi sampai pada tanaman hutan seperti Acacia sp. Kutu ini menginfeksi semua bagian tanaman, akan tetapi infeksi terbanyak terjadi pada daun. Kutu ini selain merusak daun tanaman inangnya juga membawa sebagai vector dari berbagai macam virus penyakit (Mau and Kessing, 1992).
Populasi kutu ini dapat mengalami perkembangan yang pesat. Hal ini disebabkan oleh sifat perkembangbiakkannya yang parthenogenesis. Perkembangbiakan secara parthenogenesis memungkinkan suatu spesies untuk melestarikan jenisnya tanpa harus melakukan perkawinan (Kalshoven, 1981).
Daur hidup kutu ini dimulai dari telur, kemudian nympha, dan kutu dewasa. Pada fase nympha, kutu ini mengalami 4 tahapan. Tahapan pertama nympha akan tampak berwarna hijau cerah dan sudah terdapat antena. Tahap nympha kedua tampak berwarna hijau pale dan sudah tampak kepala, abdomen, mata berwarna merah, dan antenna yang terlihat lebih gelap dari pada warna tubuh. Pada tahap ketiga, antena akan terbagi menjadi 2 segmen, warna tubuh masih hijau pale dengan sedikit lebih gelap pada sisi lateral tubuhnya, kaki tampak lebih gelap daripada warna tubuh (Kalshoven, 1981).

Gambar 2.4 Rhopalosiphum maidis (tidak bersayap)
(sumber: http://www.aphidweb.com/)

Kutu dewasa ada beberapa yang memiliki sayap (alate) dan yang tidak memiliki saya (apterous). Sayap pada kutu ini memiliki panjang antara 0,04 to 0,088 inchi. Tubuh kutu dewasa berwarna kuning kehijauan sampai berwarna hijau gelap(Kalshoven, 1981).
Populasi kutu ini dapat dikontrol dengan kehadiran Aphelinus maidis. A. maidis akan memparasit kutu ini pada fase nympha. Selain itu, terdapat juga organisme predator seperti Allograpta sp. dan beberapa jenis kumbang (Kalshoven, 1981).

5. Valanga nigricornis

Daur hidup Valanga nigricornis termasuk pada kelompok metamorfosis tidak sempurna. Pada kondisi laboratorium (temperatur 28 °C dan kelembapan 80 % RH) daur hidup dapat mencapai 6,5 bulan sampai 8,5 bulan. Fekunditas rata-ratanya mencapai 158 butir. Keadaan yang ramai dan padat akan memperlambat proses kematangan gonad dan akan mengurangi fekunditas (Kok, 1971).
Metamorfosa sederhana (paurometabola) dengan perkembangan melalui tiga stadia yaitu telur, nimfa, dan dewasa (imago). Bentuk nimfa dan dewasa terutama dibedakan pada bentuk dan ukuran sayap serta ukuran tubuhnya.

Gambar 2.5 Valanga nigricornis
(Sumber: http://www.forestpests.org/subject.html?SUB=282)

Alat-alat tambahan lain pada caput antara lain : dua buah (sepasang) mata facet, sepasang antene, serta tiga buah mata sederhana (occeli). Dua pasang sayap serta tiga pasang kaki terdapat pada thorax. Pada segmen (ruas) pertama abdomen terdapat suatu membran alat pendengar yang disebut tympanum. Spiralukum yang merupakan alat pernafasan luar terdapat pada tiap-tiap segmen abdomen maupun thorax. Anus dan alat genetalia luar dijumpai pada ujung abdomen (segmen terakhir abdomen) (Kalshoven, 1981).
Pengendalian populasi hama ini dapat dengan menggunakan ekstrak daun dan biji nimba (Azadirachta indica). Pengujian ekstrak ini terhadap hambatan makan belalang, menunjukkan adanya kenaikan sejalan dengan meningkatnya konsentrasi ekstrak nimba (Dahelmi, 2008).

6. Coptotermes curvignathus
Banyak ditemukan di daerah tropika dan subtropika dengan 45 % spesiesnya terdapat di daerah tropis. Bersarang di atas ataupun di bawah tanah pada batang pohon yang mati dan banyak menyerang kayu-kayu konstruksi pada bangunan dengan sifat serangannya yang meluas. Hal ini menjadikan rayap C. curvignathus sebagai rayap yang menimbulkan kerugian ekonomis yang besar.

Gambar 2.6 Coptotermes curvignathus
(sumber: http://www.termitesurvey.com/distribution/images)

C. curvignathus memiliki kandungan populasi flagelata yang tinggi dalam saluran pencernaannya. Hal tersebut jika dikaitkan dengan kenyataan bahwa rayap C. curvignathus merupakan rayap perusak kayu yang paling ganas di Indonesia. Daya rusaknya yang sangat hebat nampaknya didukung oleh daya cerna selulosa yang tinggi sehubungan dengan tingginya populasi flagelatanya dengan rata-rata 4682 ekor flagelata/rayap. Di Sumatera bagian tengah, dilaporkan bahwa hama ini dapat merusak tanaman Acacia sp. usia 1 tahun sebanyak 10-50 % (Nair, 2000).

Pengendalian populasi rayap ini dapat menggunakan kitosan. Kitosan mampu meningkatkan derajat ketahanan kayu seiring dengan semakin tingginya konsentrasi kitosan. Sifat trofalaksis rayap dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan rayap menggunakan kitosan. Kitosan bekerja sebagai racun perut, sehingga dapat mengganggu kinerja protozoa dalam sistem pencernaan rayap dan secara perlahan akan mematikan rayap (Zakiah dkk., 2007).
Senyawa kitosan yang berasal dari limbah kulit rajungan dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pengawet kayu untuk meningkatkan ketahanan kayu terhadap serangan rayap tanah Coptotermes curvignathus. Limbah kulit rajungan sebagai salah satu sumber daya lokal dapat dimanfaatkan untuk bahan pengawet kayu yang ramah lingkungan sehingga dapat mengurangi penggunaan bahan kimia (Zakiah dkk., 2007).

7. Bag worms
Hama ini dinamakan ulat kantong dikarenakan pada fase larva, hama ini akan membentuk struktur seperti kantong dan larva akan tinggal di dalam kantong tersebut sampai dewasa. Pada fase larva kelompok hama ini hanya akan menggerakkan kepala dan thoraknya saja yang terbuat dari kitin ketika sedang makan (Kalshoven,1981).
Hama betina tidak dapat melakukan metamorfosis secara sempurna sehingga tampak seperti “pupa” biasa. Betina ini tidak mempunyai sayap berbeda dengan jantan yang memiliki sayap karena mengalami metamorfosis yang sempurna.

1. Cryptothelea sp.
Hama jenis ini secara umum menyerang tanaman secara umum (polyphagus). Larva hama ini berukuran 4-7 cm dan diselimuti oleh material-material kering yang berasal dari bagian tanaman di sekitarnya. Betina mampu memproduksi sampai 450 butir telur untuk satu kali bertelur.

Gambar 2.7 Gambar Cryptothelea sp. (fase dewasa)
(sumber: http://www.mothphotographersgroup.msstate.edu/Files/JV/J…)

2. Ammatisa sp.
Hama ini pada fase larva akan membentuk kantong yang menyerupai ujung panah atau piramida dengan ukuran (6×36 mm). Hama ini juga bersifat polyphagus.
3. Pteroma plagiohelps
Hama ini pada fase larva akan membentuk kantong yang kecil tidak lebih dari 16 mm dan diselimuti oleh material-material daun yang telah kering. Ketika memasuki fase pupa, kantong akan berubah menjadi bentuk elips dan akan menggantung pada bagian bawah cabang (Kalshoven, 1981).
Hama ulat kantung ini memiliki musuh alami yang dapat digunakan untuk usaha pengendalian populasinya, yaitu Nealsomyia rufella, Exorista psychidarum, Thyrsocnema caudagalli, dan beberapa nematoda entomophagus (Kalshoven, 1981).

8. Heliopeltis sp.

Kutu penghisap (Heliopeltis sp.) meupakan hama yang penting di hutan tanaman industri di Sumatra. Kutu ini juga dikenal sebagai hama yang menyerang beberapa tanaman hortikultura dan perkebunan di daerah tropis, misalnya teh dan coklat. Kerusakan yang disebabkan oleh kutu ini terhadap Acacia sp. telah dilaporkan terjadi di Malaysia dan Filipina yang merusak tanaman ini pada umur 6 sampai 18 bulan. Bagian tanaman yang diserang hama ini akan tampak menjadi nekrosis dan bahkan dapat menimbulkan kematian pada pucuk tanaman (Kalshoven, 1981).

Gambar 2.8 Heliopeltis sp.
(sumber: ditjenbun.deptan.go.id/perlinbun/linbun/index)

Kematian pucuk tanaman kemungkinan disebabkan oleh racun yang diinjeksikan oleh kutu ini. Beberapa perusahaan menggunakan urea untuk meningkatkan kekebalan tanaman ini terhadap serangan kutu dan juga mengaplikasikan insektisida. Serangan hama ini dapat menyebabkan kematian pada pucuk tanaman sehingga pucuk tanaman menjadi kering (Nair, 2000).

9. Xylosandrus compactus
Hama ini berukuran kecil (1/16 inchi), berwarna hitam cerah, dan berbentuk silinder. Lubang yang dibuat hama ini memiliki lebar sebesar 1/32 inchi yang terletak di bawah cabang. Hama ini terdapat di Sumatra, Vietnam, dan Afrika (Kalshoven, 1981).

Kumbang betina merupakan penyebab kerusakan yang paling serius karena kumbang betinalah yang melubangi batang untuk membuat jalan masuk. Saluran yang terbentuk oleh kumbang betina ini akan menjadi “ladang jamur”. Jamur-jamur yang tumbuh ini akan menjadi makanan bagi larva-larva jika sudah menetas. Pada fase larva, hama ini tidak memiliki kaki. Pada fase pupa, hama ini sudah tampak seperti induk dewasanya dan telah memiliki kepala, sayap, dan anggota tubuh (Anonim, 2005).

Gambar 2.9 Xylosandrus compactus
(sumber: http://www.extento.hawaii.edu/Kbase/view/beetles.htm)

Betina dapat bertelur sebanyak 30-50 butir. Telur menetas setelah 5 hari. Setelah melengkapi pertumbuhannya selama 10 hari, larva akan berubah menjadi pupa. Fase dewasa terjadi setelah fase pupa berlangsung selama 1 minggu. Populasi kumbang ini dapat dikontrol dengan kehadiran Tetrastichus xylebororum yang merupakan parasit dari kumbang ini (Kalshoven, 1981).

B. Mite (tungau)
Tungau merupakan salah satu anggota dari kelompok arthopoda selain insecta, crustacean, dan mryapoda. Tungau termasuk dalam kelompok arachnida yang anggotanya terdiri atas laba-laba dan tungau itu sendiri. Ciri khas yang membedakan kelompok ini dengan insecta adalah jumlah kakinya yang mencapai 4 pasang, berbeda dengan insecta yang hanya memiliki 3 pasang kaki (Denmark, 2006).
Tungau yang menyerang tanaman Acacia sp. adalah Brevipalpus californicus. Brevipalpus californicus sering kali disebut juga sebagai tungau omnivora. Hal ini disebabkan karena di Amerika Serikat hama ini menyerang banyak tanaman (polyphagus) dan dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang besar. Brevipalpus californicus telah banyak dilaporkan menyerang tanaman Acacia sp. di banyak Negara, diantaranya Algeria, Angola, Australia, Brazil, Kongo, Papua New Guinea, South Africa, Thailand, dan Amerika Serikat (Denmark, 2006).
Tungau betina memiliki panjang 228 mikrometer. Tungau ini berwarna kemerahan pada saat dewasa. Morfologi tubuhnya pipih dan berbentuk seperti segitiga dengan lebar kira-kira 2/3 panjang tubuhnya.

Tungau ini pernah dilaporkan menyerang tanaman Acacia sp. Mekanisme Brevipalpus californicus dalam menyerang tanaman inang adalah dengan menginjeksikan cairan toxic ke bagian tanaman inangnya. Gejala yang tampak adalah klorosis, bronzing, atau membentuk area nekrosis pada daun (Childers et al., 2005). Selain dapat menyebabkan kerusakan pada bagian tanaman yang diserang, tungau ini juga dapat berlaku sebagai vector pembawa penyakit.

Gambar 2.10 Brevipalpus californicus
(www.forestryimages.org)

Pengendalian populasi tungau ini dapat dilakukan dengan menggunakan musuh alami, misalnya adalah dengan menggunakan tungau predator (dari famili Phytoseiidae).

C. Nematoda (cacing)
Nematoda yang biasa menyerang tanaman Acacia sp. adalah Meloidogyne incognita. Nematoda ini merupakan hama yang dapat menyebabkan “kanker” pada akar. Sel –sel pada akar yang terinfeksi oleh cacing ini pertumbuhannya akan jauh dari normal dan akan tampak membesar seperti kanker (Kalshoven, 1981).
Meloidogyne pada stadium larva juvenil II akan menyerang bagian ujung akar yang bersifat meristematik. Sel-sel ini akan selalu mengadakan pembelahan dan pembelahannya dikendalikan oleh senyawa IAA. Pada saat nematoda menyerang tanaman, dari kelenjar subdorsal dikeluarkan enzim protease. Enzim ini akan memecah protein menjadi asam amino. Salah satu jenis asam amino hasil pemecahan adalah triptofan. Triptofan diketahui sebagai precursor terbentuknya IAA. Dengan semakin banyak IAA yang terbentuk mengakibatkan peningkatan pembelahan sel. Oleh karena itu tanaman akan membentuk sel yang berukuran lebih besar (giant sel). Sebenarnya tujuan pembentukan puru ini bagi tanaman adalah untuk menghambat gerakan nematoda dalam jaringan (Anonim, 2008)
Cacing betina dewasa meletakan telurnya pada sebuah kantung pada bagian posterior tubuhnya. Sel telur yang diprodiksi dapat mencapai 3000 butir. Pada waktu tertentu, telur tersebut akan menetas dan berubah menjadi larva juvenil I akan tetapi masih beada di dalam kantung induknya. Setelah larva ini lepas dari kantung induknya, larva ini berubah menjadi larva juvenil II yang berukuran (0,4-0,5 mm). Larva juvenil II ini sudah memiliki bentuk seperti cacing. Mereka dapat bergerak bebas di dalam tanah dan akan segera tertarik dengan eksudat yang dikeluarkan oleh akar tanaman. Mereka mulai mempenetrasi jaringan akar dan mencari tempat dekat dengan jaringan pembuluh. Setelah cacing tersebut menginvestasikan dirinya pada jaringan di akar maka cacing tersebut akan memulai simbiosis parasitismenya dengan tanaman inang (Kalshoven, 1981).

Gambar 2.11. Meloidogyne incognita
(sumber: http://www.nature.com/…/v96/n4/fig_tab/6800794f1.html)

Keterangan gambar:
a. Larva juvenil II yang bersifat infektif
b. Cacing betina dewasa dengan kantung telur pada bagian posterior (h= bagian anterior)
c. Gejala yang tampak pada akar akibat serangan Meloidogyne incognita

Kerusakan yang ditimbulkan oleh cacing ini tidak terlalu nyata. Gejala yang tampak adalah menurunnya jumlah suplai makanan dan pertumbuhan yang stagnant. Tanaman muda yang terserang hama ini akan lebih menderita lebih parah jika dibandingkan dengan tanaman yang dewasa. Kerusakan lebih serius terjadi pada tanaman muda yang ditanam pada periode yang bersamaan (Kalshoven, 1981).
Pengendalian populasi hama ini dapat dilakukan dengan pemberian pengaruh fisik. Misalnya dengan pengeringan dan pemanasan tanah. Pemberian pengaruh seperti ini dapat memaksa cacing ini untuk keluar dari jaringan akar. Perendaman dengan air dapat mencegah perkembangan larva juvenil dan cacing dewasa akan tetapi tidak dapat menghambat perkembangan telur (Anonim, 2008). Selain itu pengendalian Meloidogyne spp. dapat dilakukan secara biologi dengan menggunakan Pasteuria penetrans (Panggeso dan Mulyadi, 1999).

III. KESIMPULAN

Berdasarkan keterangan di atas maka dapat disimpulkan bahwa terdapat berbagai macam jenis hama yang menyerang Acacia sp., yaitu:
• Pteroma plagiophelps, Amatissa sp., Cryptothelea sp. (Ulat kantong)
• Xystrocera festiva (Penggerek batang)
• Coptotermes curvignathus (Rayap)
• Valanga nigricornis (Belalang)
• Aegus acuminatus (Penggerek batang)
• Eurema sp. (Kupu-kupu kuning)
• Rhopalosiphum maidis (Kutu)
• Heliopeltis sp. (kutu)
• Xylosandrus compactus (Pengebor batang)
• Brevipalpus californicus (tungau)
• Meloidogyne incognita (nematoda)

DAFTAR REFERENSI

Anonim. 2005. Xylosandrus compactus (insect,). http://www.issg.org. Diakses tanggal 13 Juni 2008

Anonim. 2008. Gejala Serangan Nemotoda. http://mail.uns.ac.id/~subagiya. diakses tanggal 13 Juni 2008

Anonim. 2008. Trees In Agricultural Systems. http://www.echotech.org/. Diakses tanggal 10 Juni 2008

Badan Litbanghut. 1999. Pedoman Teknis Penanaman Jenis-jenis Kayu Komersial. Departemen Kehutanan, Jakarta

Childers C.C., Mc Coy C.W., Nigg H.N., Stansly P.A., Rogers M.E. 2005. Florida citruss pest management guide: rust mites, spider mites, and other phytophagous mites. http://edis.ifas.ufl.edu/CG002 diakses tanggal 1 Juni 2008

Dahelmi. 2008. Pengaruh Ekstrak Nimba (Azadirachta Indica A. Juss) terhadap Aktivitas Makan Belalang Valanga Nigricornis Burm. http://anekaplanta.wordpress.com/. Diakses 12 Juni 2008

H.A. Denmark. 2006. Brevipalpus californicus (Banks) (Arachnida: Acari: Tenuipalpidae). DPI Entomology Circulars, Florida

Hidayat, Y and A Kuvaini. 2005. The Keefektifan Ekstrak Daun Surian (Toona sinensis Roem) Dalam Pengendalian Larva Boktor (Xystrocera festiva Pascoe). Agrikultura 16: 133-136.

Kalshoven, L.G.E. 1981. Pest of Crops in Indonesia. PT Ichtiar Baru, Jakarta

Kazuma Matsumoto and Ragil S. B. Irianto. 1994. Ecology and Control of the Albizzia Borer, Xystrocera festiva. http://www.jircas.affrc.go. diakses tanggal 12 Juni 2008

Kherudin. 1994. Pembibitan Tanaman HTI. Penebar Swadaya, Jakarta

Kok M.L. 1971. Laboratory studies on the life-history of Valanga nigricornis. Bulletin of Entomological Research 60, 439-446

Mau, R.F.L. and J.L.M., Kessing. 1992. Rhopalosiphum maidis (Fitch). http://www.extento.hawaii.edu/Kbase/Crop/Type/rhopalos.htm. diakses tanggal 12 Juni 2008

Nair, K.S.S. 2000. Insect Pests and Diseases in Indonesian Forests: of the major threats, research efforts and literature. CIFOR, Bogor
Nayar, K.K., T.N. Ananthakrishnan, and B.V David. 1976. General and Applied Entomology. Mc Graw-Hill Publishing co. ltd., New Delhi

Panggeso, J. dan Mulyadi. 1999. Perkembangan bakteri Pasteuria penetrans pada nematoda puru akar (Meloidogyne spp.). Jurnal Agroland. v. 6(1-2) p. 82-87

Zakiah, S., Purnomo, D., Nugraheni, E., dan Adi Setiadi. 2007. Pemanfaatan Limbah Kulit Rajungan untuk Pengendalian Rayap Tanah. Http://Adioke.Multiply.Com/Journal/Item/9. Diakses Tanggal 12 Juni 2008

http://www.nature.com/…/v96/n4/fig_tab/6800794f1.html. diakses tanggal 30 Mei 2008

http://www.forestryimages.org diakses tanggal 30 Mei 2008

http://www.extento.hawaii.edu/Kbase/view/beetles.htm. diakses tanggal 30 Mei 2008

http://www.mothphotographersgroup.msstate.edu/Files/JV/J. diakses tanggal 1 Juni 2008

http://www.termitesurvey.com/distribution/images. diakses tanggal 1 Juni 2008

http://www.forestpests.org/subject.html?SUB=282. diakses tanggal 28 Mei 2008

http://www.aphidweb.com/ diakses tanggal 28 Mei 2008

http://www.flickr.com/photos/fbmagpie/1721946568. diakses tanggal 28 Mei 2008

http://www.pbase.com/uplepidoptera/family_pieridae. diakses tanggal 28 Mei2008

http://www.malaeng.com/blog/index.php?paged=15. diakses tanggal 28 Mei 2008

Posted by: pribadiavry | July 28, 2009

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories